Jumat, 14 Oktober 2011

Al-Baqarah [ayat 26-30]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat


26. Inna Allaaha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan famaa fauqohaa  faamma alladziina aamanuu faya’lamuuna annahu al haqqu min robbihim wa ammalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa arooda allaahu bi haadzaa matsalan yudhillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron wa maa yudhillu bihii illalfaasiqiina.
Sungguh Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan suatu (berupa) nyamuk, maka apa yang diatasnya, maka adapun orang-orang yang mereka beriman, maka mereka mengetahui sungguh itu benar dari Tuhan mereka, dan adapun orang-orang yang mereka kafir, maka mereka berkata,”Apakah maksud Allah dengan perumpamaan ini, Dia sesatkan dengannya (orang) banyak, dan Dia tunjuki dengannya (orang) banyak”, dan Dia tidak menyesatkan dengannya kecuali (pada) orang-orang fasik.
…laa yastahyii…: Kita menghindari malu yang menyebabkan kesesatan atau tidak pada jalan kebenaran. Sebagaimana Allah membuat perumpamaan atas Maha Kuasa-Nya dengan penciptaan nyamuk. Misalnya, kita menghindari malu yang menyebabkan tidak mau berdakwah.
An yadlriba matsalan : 1. Kita berharap mendapat petunjuk dengan adanya perumpamaan. 2. Kita berdakwah dengan membuat perumpamaan-perumpamaan untuk memperjelas pesan yang disampaikan.
Ba’uudlotan : 1. Kita ingat nyamuk maka ingat Maha Kuasa Allah yang telah menciptakan nyamuk. Misalnya : nyamuk diciptakan dari jentik. 2. Kita lihat penciptaan apapun maka kita ingat Allah. Hal ini dikiyaskan dengan penciptaan nyamuk.
Famaa fauqohaa : Kita ingat Maha Kuasa Allah yang telah menciptakan jasad renik. Misalnya bakteri , sel, atom dan sebagainya.
…alladziina aamanuu : Kita berusaha menjadi orang yang beriman, karena orang yang beriman disukai oleh Allah dan dijamin masuk surga.
Fa ya’lamuuna : Kita berusaha menggunakan ilmu atas sesuatu. Sebab menggunakan ilmu berarti amal sholeh yang paling tinggi. Ilmu adalah yang mengagungkan Allah.
Annahu al haqqu : Kita berusaha melihat hakekat dibalik materi. Misalnya, kita melihat nyamuk pada hakekatnya melihat Maha Kuasa-Nya Allah dalam menciptakan nyamuk.
Min robbihim : Kita mengarahkan tujuan tafakkur untuk menyadari semua itu dari Allah atau atas kekuasaan Allah.
..alladziina kafaruu : Kita menghindari menjadi orang kafir, karena orang kafir dibenci Allah dan pasti masuk neraka.
Fayaquuluuna maadzaa ,…: Kita menghindari sifat orang kafir yang kata-katanya bernada menghinakan Allah. Seharusnya melihat ciptaan mengatakan subhaanallaah tetapi tiadk  demikian, malah mengabaikan.
Bihaadzaa matsalan : Kita menghindari sifat orang kafir yang menghinakan Maha Kuasa Allah dalam menciptakan sesuatu saat diperlihatkan perumpamaan.
Yudlillu bihii katsiiron : Kita hindari termasuk kebanyakan orang yang disesatkan Allah.
Wa yahdii ,..: Kita berusaha dan mohon kepada Allah termasuk golongan yang diberi petunjuk, dengan cara banyak ingat Maha Kuasa Allah dalam penciptaan.
…yudlillu..faasiqiina : 1. Kita yakin bahwa Allah menyesatkan karena kefasikan yang ada pada kita . 2. Kita menghindari termasuk golongan orang yang fasik yaitu orang yang disesatkan oleh Allah.
27. Al ladziina yanqudluuna ‘ahda alloohi min ba’di miitsaaqihii wa yaqtho’uuna maa amarolloohu bihii an yuushola wa yufsiduuna fi al ardli ulaa’ika humu al khoosiruuna.
Orang-orang yang mereka melanggar (pada) janji Allah dari sesudah peneguhannya, dan mereka memutus apa yang Allah memerintah dengannya untuk disambung, dan mereka merusakkan di bumi. Mereka itu, mereka, orang-orang yang rugi.
Alladziina yanqudluuna ‘ahda Allaahi : 1. Kita menghindari melanggar perjanjian Allah SWT dengan cara banyak iman dan amal Sholeh. 2. Kita banyak ingat dan berusaha menjalankan perjanjian kita pada Allah yaitu berjanji untuk selalu menghamba pada-Nya.
Min ba’di miitsaaqihii : Kita berusaha menepati janji, termasuk menepati janji kita pada Allah yaitu selalu menghamba.
Wa yaqtho’uunaa : Kita hindari menjadi orang yang memutus silaturrahmi.
Maa amaro Allaahu  : Kita utamakan melaksanakan apa yang diperintah Allah saja, tidak yang lain.
An yuushola : Kita berusaha untuk menyambung tali silaturrahmi pada keluarga, guru, kyai, dan sebagainya.
Wayufsiduuna fii al ardli : Kita hindari membikin kerusakan di bumi. Termasuk membikin kerusakan di bumi adalah mengumbar aurat dan sebagainya.
Ulaaika humu al khoosiruuna : 1. Kita yakin bahwa yang dimaksud “mereka itu” dalam ayat ini adalah termasuk kita. 2. Kita berusaha menghindari menjadi termasuk golongan “mereka”, yaitu orang-orang yang rugi, dengan cara berusaha menempati janji kita kepada Allah yaitu untuk selalu menghamba pada-Nya.
28. Kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma  ilaihi turja’uuna.
Bagaimana kalian kafir dengan Allah, dan kalian adalah mati, maka Dia hidupkan kalian, lalu Dia matikan kalian, lalu Dia hidupkan kalian, lalu kepada-Nya kalian dikembalikan.
Kaifa takfuruuna bi Allahi : Kita menghindari kafir atau ingkar terhadap Allah. Termasuk ingkar pada Allah adalah ingkar pada hukum-hukum Allah, dan sebagainya.
Amwaatan fa’ahyaakum : 1. Kita banyak ingat dan sering membuktikan bahwa kita diciptakan oleh Allah dari benda mati. Misalnya : Nabi Adam dari tanah mati dan ibu Hawa dari tulang yang mati. 2. Kita sering mengingat kekuasaan Allah yang menghidupkan kita dari benda mati.
Tsumma yumiitukum : Kita ingat bahwa Allah Kuasa mematikan segala sesuatu. Sehingga kita menyiapkan kematian dengan cara banyak beramal sholeh selama hidup didunia.
Tsumma yuhyiikum : 1. Kita banyak ingat Allah Maha Kuasa menghidupkan kita di alam selama-lamanya. 2. Kita menyadari bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah di alam selama-lamanya.
…ilaihi turja’uuna : Kita selalu ingat bahwa kita akan dikembalikan oleh Allah di alam selama-lamanya, sehingga kita memperbanyak amal kebaikan delama di dunia.
29.  Huwa al ladzii kholaqo lakum maa fi al ardli jamii’an tsumma istawaa ila as samaa’i fa sawwaahunna sab’a samaawaatin wa huwa bikulli syai’in ‘aliimun.
Dia Dzat yang menciptakan bagi kalian apa yang di bumi semua, kemudian Dia menghendaki kepada langit, maka Dia menyempurnakan tujuh langit, dan Dia terhadap tiap sesuatu Maha Mengetahui.
…kholaqo…: Kita banyak ingat bahwa Daa Allah yang Maha Menciptakan termasuk bumi.
Lakum maa fi al ardli jamii’an : 1. Kita sadari bahwa bumi dan isinya diciptakan Allah untuk manusia, sehingga kita banyak syukur pada Allah atas penciptaan bumi dan isinya. 2. Kita lihat bumi, ingat Allah yang menciptakan.
…ilaa as samaa’I fasawwaahunna : Kita lihat langit, ingat Allah yang menyempurnakan menjadi tujuh langit.
Sab’a samaawaatin : Kita meyakini bahwa langit ada tujuh, dan yang berupa materi adalah langit dunia. Tetapi, kita serahkan pemahaman tujuh langit itu pada Allah, Nabi atau Ulama’.
…aliimun : 1. Kita menyadari bahwa Allah mengetahui perbuatan dan hati kita, sehingga kita gunakan hati kita untuk selalu mengagungkan Allah SWT. 2. Kita berbuat kebaikan hanya ingin diketahui oleh Allah saja, bukan yang lain.
30. Wa idz qoola rabbuka lilmalaaikati innii jaa’ilun fi al ardli kholiifatan qooluu ataj’alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfiku ad adimaa’ wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisulaka qoola innii a’alamu maa laa ta’lamuuna.
Dan ketika Tuhanmu berfirman bagi para malaikat, ”Sungguh aku Dzat yang menjadikan di bumi kholifah”, mereka berkata. “Apakah Kau jadikan orang yang merusakkan di dalamnya, dan menumpahkan darah, dan kami, kami bertasbih dengan puji-Mu dan kami sucikan bagi-Mu. Dia berfirman, ”Sungguh Aku, Aku lebih tahu apa yang kalian tidak tahu”.
Wa 'idz : Kita ingat cerita-cerita dalam al Qur’an untuk diambil pelajaran.
Qooluu : Kita mengadakan dialog dalam bermusyawarah, sebagaimana Allah berdialog dengan malaikat ketika mau menciptakan kholifah di bumi.
Robbuka : 1. Meskipun kita jadi pemimpin, kita tetap berdialog dengan bawahan. Sebab, Tuhan yang menciptakan malaikat berdialog dengan  malaikat ciptaan-Nya. 2. Kita yakini bahwa ini benar-benar firman Allah.
Lilmalaaikati : Yang mempunyai keterkaitan dengan sesuatu, maka kita ajak dialog atau musyawarah urusan sesutu itu, sebagaimana malaikat diajak dialog tentang penciptaan manusia di bumi. Karena malaikat pernah dijadikan pengaman penghuni bumi yaitu banuljan (anak cucu jin)
Innii jaa’ilun : Kita komunikasikan rencana kita walaupun sudah pasti dan tidak bisa dihalangi. Sebagaimana Allah yang pasti akan menjadikan khalifah di bumi, tetap mengkomunikasikan pada para malaikat, meskipun andai saja malaikat tidak setuju, maka Dzat yang menjadikan sudah pasti menjadikan.
Fii al ardli : 1. Karena di bumi kita diciptakan Allah, maka kita hindari merasa takut kekurangan urusan dunia. Sebab Allah sudah menyesuaikan bumi untuk kebutuhan  manusia dari segi udara, tanaman, air, dan sebagainya. 2. Kita sadari selama di bumi saja kita menjadi pemimpin.
Kholiifatan : Kita sadari bahwa Allah menciptakan manusia di bumi sebagai kholifah atau pemimpin. Oleh karena itu, kita melaksanakan kehendak Allah atau sifat Allah di bumi, antara lain : sifat selalu mengasihi atau sangat mengasihi. Misalnya : suka memberi makan, dan sebagainya.
Qooluu : Kita sampaikan pendapat disertai bukti.
A taj’aluu.. :  Kita mengajar dengan materi yang sudah diketahui murid saja, sebagaimana malaikat yang berdialog dengan Allah tentang sesuatu yang sudah diketahui malaikat.
Man yufsidu …: 1. Kita hindari menjadi perusak dan menghindari perbuatan yang mengakibatkan terjadi kerusakan sekecil apapun di bumi, sebagaimana yang dikhawatirkan para malaikat. 2. Kita waspada terhadap perbuatan yang mengakibatkan kerusakan. Misalnya : mencoret-coret meja, dan sebagainya.
Wa yasfiku addimaa’a : 1. Kita waspada terhadap perbuatan yang mengakibatkan terjadi penumpahan darah sekecil apapun. Misalnya: menggunjing,berprasangka buruk, menyakiti, dan sebagainya.
…nusabbihu..: 1. Kita mencontoh malaikat yang sopan dalam menyampaikan pendapat yaitu diakhiri dengan mengagungkan Allah. 2. Kita mencontoh malaikat yang selalu bertasbih dalam keadaan apapun. 3. Kita yakini bahwa pujian hanya milik Allah. 4. Kita selalu memuji Allah dalam keadaan apapun.
Wa nuqoddisu laka : 1. Kita bicara dengan menggunakan akhlak sebagaimana malaikat berbahasa memulyakan saat menyampaikan pendapat. 2. Kita selalu berusaha mensucikan Allah dalam keadaan apapun. 3. Kita sucikan hati kita dengan ingat Allah. 4. Kita hanya berorientasi pada Allah saja. Sehingga kita tidak peduli dicela atau  dipuji oleh manusia. 5. Kita limpahkan sanjungan hanya pada Allah.
Qooluu : Kita merespon usulan sebagaimana Allah merespon usulan malaikat.
Innii a’lamu : Kita serahkan keputusan pada ahli ilmu, bukan pada banyaknya orang, sebagaimana malaikat yang jumlahnya banyak tapi tidak bisa memutuskan perkara.
Laa ta’lamuuna : 1. Kita menyadari bahwa sangat banyak yang tidak kita ketahui. 2. Kita nyatakan tidak mengerti apa-apa di hadapan Allah. 3. Kita merasa bodoh dihadapan Allah, sehingga kita selalu memohon petunjuk pada Allah . 4. Kita menolak usulan disertai alasan.

Selasa, 04 Oktober 2011

Al - Baqarah [ayat 22-25]


AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

22.   Al ladzii ja’ala lakum al ardlo firoosyan wa as samaa’a binaa’an wa anzala mina as samaa’I maa’an fa akhroja bihii mina as tsamarooti rizqon lakum fa laa taj’aluu lillaahi andaadan wa antum ta’lamuuna.
Dzat yang menjadikan bagi kalian bumi (sebagai) hamparan dan langit (sebagai) atap, dan Dia menurunkan dari langit air, maka Dia mengeluarkan dengannya (air) dari buah-buahan (sebagai) rizqi bagi kalian. Maka jangan kalian jadikan bagi Allah tandingan-tandingan, dan kalian, kalian mengetahui.

Alladzii ja’ala …1. Kita lihat bumi, maka ingat Allah SWT yang menjadikan. 2. Kita banyak bersyukur pada Allah atas penciptaan bumi, karena bumi diciptakan untuk kebutuhan manusia bukan untuk Allah. 3. Kita ingat Maha sayang-Nya Allah yang telah menjadikan bumi menjadi hamparan,meskipun sebenarnya bulat.
Wa as-samaa’a binaa’an : 1. Kita lihat langit, maka ingat Allah yang menjadikan. 2. Kita banyak ingat Maha Sayang-Nya Allah yang telah menciptakan langit sebagai atap, sehingga dimanapun kita berada pasti masih dibawah langit.
Wa anzala mina as-samaa’I maa’an : Kita melihat hujan, maka ingat Allah yang telah menurunkan. Kita banyak mentafakkuri tentang kejadian hujan.
Fa’akhroja bihii mina ats-tsamarooti : Kita banyak ingat Maha sayang-nya Allah yang telah mengeluarkan buah-buahan sebagai rizki untuk kita.
Falaa taj’aluu lillaahi : Kita mengutamakan urusan dengan Allah SWT, yaitu selalu mengagungkan-Nya.
Andaadan : Kita menghindari menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah. Contoh menganggap yang membuat kuat puasa adalah nasi, yang menyembuhkan sakit adalah obat, dan sebagainya.
…ta’lamuuna : Kita menghindari melanggar aturan Allah, padahal kita mengetahui.
23.   Wa in kuntum fii roibin min maa nazzalnaa ‘alaa ‘abdinaa fa’tuu bisuurotin min mitslihii wad’uu syuhadaa’akum min duu nillaahi in kuntum shoodiqiina.
Dan jika kalian adalah dalam keraguan, dari apa yang Kami turunkan atas hamba Kami, maka datangkanlah kalian (satu) surat dari sepertinya, dan ajaklah kalian (pada) penolong-penolong kalian dari selain Allah, jika kalian adalah orang-orang yang benar.

…fii roibin : Kita menghindari ragu terhadap Al Qur’an. Tapi langsung iman pada Al Qur’an sehingga kita pakai pedoman hidup.
Mimmaa nazzalnaa : Kita meyakini bahwa Allah yang menurunkan al Qur’an, bukan buatan Nabi Muhammad.
‘alaa ‘abdinaa : 1. Kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah hamba Allah yang tidak mungkin berkhianat untuk mengganti al Qur’an. 2. Kita mencontoh Nabi Muhammad SAW untuk menjadi hamba Allah.
Fa’tuu : Kita berbicara menghadapi orang kafir dengan minta bukti, meskipun hanya minta satu surat.
Bisuurotin min mitslihii : Kita yakin tidak ada yang bisa membuat al Qur’an, meskipun satu surat saja. Sebab satu surat atau satu ayat dijelaskan oleh surat atau ayat lainnya.  Bagaikan jika seorang bisa membuat telinga berarti bisa membuat jantung, syaraf, dan sebagainya.
…syuhadaa’akum min duuni Allaahi : Kita yakin bahwa al Qur’an tidak bisa dibikin oleh selain Allah, meskipun oleh banyak orang, karena semakin banyak orang yang berusaha semakin banyak perbedaan dan pasti tidak jadi.
..shodiqiina : 1. Kita berusaha menjadi orang-orang yang benar dan membenarkan al Qur’an. 2. Kita meyakini bahwa orang-orang yang tidak membenarkan al Qur’an adalah orang-orang yang tidak benar sehingga kita abaikan.
24.   Fain lam taf’aluu wa lan taf’aluu fattaqunnaaro al latii waquuduha an naasu wa al hijaaroti u’iddatt lilkaafiriina.
Maka jika kalian tidak (bisa) membuat dan kalian tidak bakal (bisa) membuat, maka takutlah kalian pada neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang-orang kafir.

Fain lam taf’aluu …: Kit tidak perlu membuat al Qur’an tapi langsung menyadari bahwa al Qur’an benar-benar dari Allah yang  pasti benarnya, sehingga kita pakai sebagai pedoman hidup.
Fattaquu an naaro : Kita memperbanyak takut pada  neraka. Siapa yang detik-detiknya dipakai takut neraka, maka akan dibimbing oleh Allah dan hidupnya akan tenang.
…waquuduhaa an-naasu wa al hijaaroti : 1. Kita takut ancaman Allah berupa neraka yaitu yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. 2. Kita takut ancaman Allah menjadi bahan bakar neraka.
U’iddat lilkaafiriina :  Kita takut ancaman Allah pada orang kafir yaitu disediakan neraka atas mereka.
25.   Wa basysyiri al ladziina aamanuu wa’amilu as shoolihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihaa al anhaaru, kullamaa ruziquu minhaa min tsamarotin rizqon qooluu haadza al ladzii ruziqnaa min qoblu wa ‘utuu bihii mutasyaabihan wa lahum fiihaa azwaajun muthohharotun wa hum fiihaa khooliduuna.
Dan gembirakan orang-orang yang mereka beriman dan mereka berbuat kebaikan-kebaikan, sungguh bagi mereka surga-surga mengalir dari bawahnya sungai-sungai, tiap apa yang mereka diberi rizki darinya, dari buah-buahan (sebagai) rizki, mereka berkata, “Ini yang kami diberi rizki dari (pada) sebelumnya, dan mereka diberi dengannya yang serupa”. Dan bagi mereka di dalamnya pasangan-pasangan yang disucikan, dan mereka di dalamnya orang-orang yang kekal.

Wa basysyiri :  1. Kita membikin gembira dengan adanya surga kepada orang lain agar beriman dan beramal sholeh. 2. Kita lanjutkan dakwah Nabi yaitu memberi kabar gembira adanya surga bagi yang iman dan beramal sholeh.
Alladziina aamanuu :  Kita utamakan hidup didunia hanya untuk iman dan amal sholeh dengan cara memanfaatkan hati untuk iman yaitu syukur, sabar, dan tawakkal, sedangkan raga dan harta untuk beramal sholeh.
…jannaatin : 1. Kita meyakini bahwa surga disediakan Allah hanya untuk orang beriman dan beramal sholeh. 2. Kita raih akhirat yang penuh kenikmatan yaitu surga dengan iman dan amal sholeh selama di dunia. 3. Kita memotivasi orang agar beriman dan beramal sholeh dengan adanya surga.
Tajrii min tahtihaa al anhaaru : Kita berusaha memperoleh surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dengan cara mengalirkan air untuk wudlu selama di dunia, dan sebagainya.
Kullamaa ruziquu minha min tsamarootin…: Kita banyak mengingat tentang cerita-cerita keadaan surga yang penuh kenikmatan dengan diberi rizki berupa buah-buahan dengan cara beriman dan beramal sholeh selama di dunia.
Qooluu haadza : Kita memperbanyak ingat kegembiraan-kegembiraan ahli surga yang mengatakan,”Rezeki inilah yang kami pernah diberi sebelumnya”.
…mutasyaabbihan : 1. Kita selalu ingat bahwa di surga ada buah-buahan yang bermacam-macam. Sehingga kita banyak menahan keinginan-keinginan terhadap buah-buahan dan tidak kecewa apabila tumbuh-tumbuhan tidak berbuah atau buah-buahan kebun kita dicuri  orang. 2. Kita beramal sholeh di dunia maka akan dibalas dengan yang serupa yaitu surga. Misalnya : Kita memberi buah kepada seseorang di dunia, maka akan dibalas di surga.
…azwaajun : Kita taat pada hukum Allah dengan cara menahan asmara, berzina maupun mendekati zina, misalnya : sms-an dan sebagainya, sebab sudah ada kabar gembira bahwa di surga ada pasangan-pasangan hidup yang tiada tara. Untuk yang perempuan tidak perlu protes, karena bisa saja seseorang meminta menjadi laki-laki, dan di surga tidak ada hukum lagi karena boleh berzina dengan siapapun.
Muthohharatun : 1. Kita selalu ingat bahwa di surga adalah kenikmatan yang dikhususkan bagi perorangan atau disucikan dari orang lain. 2. Kita mencari kenikmatan surga dengan meninggalkan maksiat.
..khooliduuna : Kita yakin bahwa surga adalah alam kekal dan penuh kenikmatan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.

Jumat, 23 September 2011

Al-Baqarah [ayat 18-21]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

18. Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna.
Tuli, bisu, buta, maka mereka, mereka tidak kembali.
Shummun : Kita menghindari tuli yaitu tidak bisa mendengarkan petunjuk Allah.
Bukmun : Kita menghindari bisu yaitu tidak bisa berbicara tentang kebenaran yang datang dari Allah, sehingga berbicara hanya tentang dunia saja.
‘umyun : Kita menghindari buta yaitu tidak bisa melihat cahaya petunjuk dari Allah. Sehingga lihat ciptaan tidak ingat Allah.
Fahum laa yarji’uuna : 1. Kita menghindari munafik yang tidak bisa kembali pada jalan yang benar. 2. Kita berusaha segera kembali pada jalan Allah setelah kita berbuat kesalahan

19. Au kashoyyibin min al samaa’i fiihi zhulumaatun wa ra’dun wa barqun yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim min al showaa’iqi hadzaral mauut wa allaahu muhiithun bi al kaafiriina.
Atau seperti hujan lebat dari langit, di dalamnya (ada) gelap dan petir, dan kilat,mereka jadikan (tutup) jari-jari mereka dalam telinga mereka dari suara petir (karena) takut mati, dan Allah meliputi terhadap orang-orang kafir.

Au kashoyyibin …: Kita menghindari menyia-nyiakan petunjuk yang petunjuk itu bagaikan air. Sebagaimana orang munafik menjadikan air hujan atau petunjuk yang banyak dari langit tidak bermanfaat tetapi malah membahayakan.
Fiihi zhulumaatun : Kita menghindari hidup dalam kegelapan tanpa ada cahaya yaitu petunjuk, dengan cara berguru pada Nabi atau Ulama’.
Wa ro’dun : Kita menghindari menjadikan petunjuk atau nasehat keagamaan hanya seperti suara petir, yaitu sesuatu yang memberatkan atau menakutkan.
Wa barqun : Kita menghindari menjadikan petunjuk atau nasehat keagamaan hanya seperti kilat. Yaitu sesaat saja dan terlalu terang. Sehingga  malah menjadi silau.
Yaj’aluuna ashoobi’ahum …: Kita menghindari menutup telinga dari petunjuk yang menganggap petunjuk seperti suara petir.
Mina ash-showaa’iqi : Kita menghindari menganggap petunjuk itu seperti suara petir atau sesuatu yang memberatkan.
Hadzaro al-mauti : Kita menghindari takut mati. Takut mati atau cinta dunia adalah penyebab segala kemunafikan.
Wa allaahu muhiitun …: 1. Kita menyerahkan balasan orang kafir hanya pada Allah saja, karena pengetahuan dan atas kekuasaan Allah meliputi orang kafir. 2. Kita menyadari bahwa orang kafir selalu diawasi oleh Allah dan dibalas di neraka. Sehingga, kita menghindari perbuatan kafir.
20. Yakaadu al barqu yakhthofu abshoorohum kullamaa adloo’a lahum masyau fiihi wa idzaa adzlama ‘alaihim qoomuu wa lau syaa allaahu ladzahaba bisam’ihim wa abshoorihim inna allaah ‘alaa kulli syai’in qodiirun.
Kilat itu hampir menyambar penglihatan mereka. Tiap apa yang menyinari pada mereka, mereka berjalan dalamnya, dan apabila menggelapkan atas mereka, mereka berdiri (diam). Dan andai Allah berkehendak, sungguh Dia hilangkan pendengaran mereka dan penglihatan mereka, sungguh Allah atas tiap sesuatu Maha Kuasa.
Yakaadu al barqu yakhthofu abshoorohum..: 1. Kita menghindari menganggap petunjuk adalah sesuatu yang  berat dan tidak istiqoomah. Berat yaitu bagaikan kilat yang terlalu silau sehingga mata tidak dapat melihat, sedangkan tidak istiqoomah yaitu bagaikan kilat yang sekilas saja sehingga kita mohon ampun atas detik demi detik yang tidak ingat pada Allah dan hari akhir. 2. Kita yakin bahwa sebenarnya petunjuk itu sangat jelas, sehingga kita berusaha menjalankan petunjuk itu, yang diumpamakan seperti cahaya yang hampir menyambar mata mereka.
Adloo’a lahum masyau  fiihi : Kita menghindari petunjuk itu hanya sekilas seperti kilat. Sehingga, berbuat sesuatu kebaikan hanya di saat tertentu saja. Misalnya ; shalat disaat pada hari raya saja yaitu setahun sekali.
…azhlama… : Kita menghindari hidup dalam kegelapan tidak dapat petunjuk.
Lau syaa’a Allaahu .. : Kita takut  Maha Berkehendak-Nya Allah yang menghilangkan pendengaran dan penglihatan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar dan melihat petunjuk Allah.
…qodiirun : Kita banyak ingat Maha Kuasa-Nya Allah termasuk Maha Kuasa menghilangkan pendengaran dan penglihatan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar dan melihat petunjuk dari Allah.
21. Yaa ayyuha an-naasu u’buduu robbakumu al ladzii kholaqokum wa al ladziina min qoblikum la’allakum tattaquuna.
Hai manusia, sembahlah (pada) Tuhan kalian, Dzat yang menciptakan kalian dan orang-orang yang dari sebelum kalian, agar kalian, kalian bertaqwa.
Yaa ayyuha an-naasu : Kita merasa terpanggil oleh al – Qur’an yaitu dengan panggilan “Hai manusia”. Sehingga  menyadari bahwa al-Qur’an untuk kita, bukan untuk orang lain.
U’buduu robbakumu : Kita hanya menghamba pada Dzat yang memelihara, mengatur, dan menciptakan kita, tidak pada yang lain yaitu isinya dunia.
Alladzii khalaqokum : Kita banyak ingat bahwa kita diciptakan oleh Allah, oleh karena itu kita hanya menghamba pada-Nya tidak menghamba pada yang lain.
Wa alladziina min qoblikum : 1. Kita sadari bahwa semua manusia yaitu mulai dari zaman Nabi Adam adalah diciptakan oleh Allah hanya untuk menghamba kepada Allah. 2. Kita mencontoh orang-orang terdahulu yang menyembah pada Allah.
La’allakum tattaquuna : 1. Kita orientasikan hidup pada taqwa dengan cara selalu menghamba pada Allah dan berpedoman hidup pada al-Qur’an. 2. Kita yakin bahwa semua perintah Allah jika dijalankan, maka kebaikannya untuk manusia, bukan untuk Allah.

Kamis, 22 September 2011

Al-Baqarah [ayat 14-17]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

14. Wa idzaa laquu al-ladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa idza khalau ilaa syayaathiinihim qaaluu innaa ma’akum inamaa nahnu mustahzi’uuna.
Dan apabila mereka jumpa (pada) orang-orang yang mereka beriman, mereka berkata,”kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri pada setan-setan mereka, mereka berkata,”Sungguh kami beserta kalian”. Sungguh hanya kami orang-orang yang memperolok.
…laquu al ladziina aamanuu : Kita menghindari membedakan iman dalam hati, antara pada waktu kita berjumpa orang yang beriman dengan ketika berjumpa  orang yang tidak beriman.
Qaaluu aamannaa : 1. Kita menghindari mengatakan  iman hanya dimulut saja. 2. Kita menghindari menjadi orang yang cari muka dan waspada pada orang tersebut, tapi kita melakukan yang terbaik untuk mereka. Contoh : Jika kelihatannya kelaparan maka kita beri makan, tidak diberi uang.
Khalau : Kita menghindari memisahkan diri dari Allah dan orang-orang yang beriman. Jika kita tetap bersama orang munafik, maka kita berusaha berdakwah pada mereka.
Ilaa syayaathiinihim : 1. Kita menyebut orang yang mengajak pada kekafiran dengan sebutan menghinakan. Misalnya syaitan-syaitan, dan sebagainya. 2. Kita menghindari berkumpul dengan syaitan-syaitan yaitu yang membisikkan kejahatan dalam dada kita terutama yang berbentuk manusia.
Qaaluu innaa ma’akum : 1. Kita menghindari sifat munafik yang tidak punya pendirian  dengan cara mengatakan iman dan berusaha melaksanakan iman itu. 2. Kita menghindari mengatakan,”aku adalah orang yang mudah menyesuaikan dengan keadaan”. Jika berkumpul dengan orang yang sholat maka ikut sholat, jika berkumpul dengan orang yang mabuk-mabukan aku ikut mabuk-mabukan.
Innamaa nahnu mustahzi’uuna : 1. Kita menghindari menjadi orang yang baik di depan tapi dibelakan mengolok-olok. 2. Kita menghindari berbicara keimanan yang tidak serius atau gurauan saja.
15. Allaahu yastahzi’u bihim wayamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuuna.
Allah mengolok mereka dan Dia membiarkan (pada) mereka dalam kesesatan mereka, mereka terombang-ambing.
Allaah yastahzi’u bihim : Kita takut dihinakan oleh Allah dengan cara menghindari menghinakan Allah, Rasul atau Ulama’,  pesantren dan sebagainya.
Wa yamudduhum fii tughyaanihim : Kita takut dan menghindari dibiarkan oleh Allah dalam kesesatan.
Ya’mahuuna : Kita menghindari terombang ambing dalam kesesatan atau masuk dalam lingkaran kesesatan.

16. Ulaaika al ladziina isytarawudldlolaalata bi al huda fa maa robiha at atijaaratuhum wa maa kaanuu muhtadiina.
Mereka itu, orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidak beruntung jual beli mereka  dan tidak mereka adalah orang-orang yang dapat petunjuk.
Isytarau… : 1. Kita menghindari memilih kesesatan dengan menghilangkan petunjuk. Misalnya ; sudah benar bertemu dengan orang yang beriman tetapi malah menemui orang kafir sehingga kembali kafir. Contoh lain ; memilih nonton maksiat dari pada sholat. 2. Kita sering menggunakan akal dengan menyamakan urusan akhirat terhadap urusan dunia. Misalnya ; memilih kesesatan dengan meninggalkan petunjuk. Diumpamakan membeli barang busuk dengan barang yang baik.
Adl dlolaalata bi al huda : Kita menghindari membeli kesesatan dengan petunjuk. Misalnya memilih nonton maksiat dengan meninggalkan sholat atau mencari ilmu.
Famaa robihat : Kita menghindari tidak mendapatkan keuntungan dari perbuatan kita, apalagi kita akan memasuki   alam yang selama-lamanya.
Tijaaratuhum : Kita banyak memikirkan tentang perdagangan urusan akhirat dari pada perdagangan urusan dunia.
Fa maa kaanuu muhtadiina : Kita takut tidak dapat petunjuk dari Allah sebab bahayanya sangat besar. Sehingga kita mohon kepada Allah sagar senantiasa diberi petunjuk.
17. Matsaluhum kamatsali alladziina istauqoda naa roon, falammaa adlooats ma haulahuu dzahaba allaahu binuurihim wataraka hum fii dzulumaatin laa yubshiruuna.
Perumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api, maka tatkala ia menerangi apa yang disekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan Dia meninggalkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak melihat.
Matsaluhum kamatsali : 1. Kita mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan yang dibikin Allah. 2. Kita menjelaskan petunjuk yang datangnya dari Allah dengan membuat perumpamaan-perumpamaan.
Al ladziina istauqoda naaron : 1. Kita berusaha istiqomah dalam kebaikan, tidak memutuskannya. Misalnya : meneruskan berkumpul dengan orang yang beriman dengan mengatakan kami iman, tidak kembali  pada kafir lagi. Hal ini diumpamakan menyalakan api untuk petunjuk. 2. Kita meneruskan semangat pada kebaikan tidak memutuskannya. Hal ini diumpamakan menyalakan api.
Falammaa adlooats,…: Kita berusaha istiqoomah berada dalam lingkaran petunjuk atau semangat beramal sholeh. Hal ini diumpamakan hidup yang disinari oleh api atau cahaya.
Dzahaba Allaahu binuurihim : Kita takut dilenyapkannya cahaya pada kita. Lenyapnya cahaya petunjuk atas kita sangat berbahaya yaitu dimudahkan untuk berbuat kejahatan dan dipersulit berbuat kebaikan.
Wa taroka hum : Kita takut dan berusaha menghindari dibiarkan oleh Allah atau tidak dibina. Sebab hal tersebut bahayanya sangat besar yaitu pasti tidak berbuat kebaikan dan pasti cenderung berbuat kejahatan.
Fii dzulumaatin :  Kita  menghindari kegelapan atau cinta dunia. Kita yakin bahwa dunia itu ringan, kecil, dan hina, bukan mulia.
Laa yubshiruuna : 1. Kita menghindari hidup dalam kegelapan, tidak bisa melihat kekuasaan Allah.  Misalnya, lihat langit tidak ingat Allah yang menciptakan, dan sebagainya. 2. Kita menghindari tidak bisa melihat cahaya petunjuk Allah, dengan cara selalu mohon bimbingan agar selalu ditunjuki oleh Allah.

Minggu, 18 September 2011

Al-Baqarah [ayat 9-13]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

9. Yukhoodi’uuna allaaha wa al-alladziina aamanuu wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum wa maa yasy’uruuna.
Mereka menipu Allh dan orang-orang yang mereka beriman, dan tidak mereka menipu kecuali (pada) diri mereka dan tidak mereka merasa.
yukhoodi’uuna allaaha : Kita menghindari menipu pada Allah. Termasuk menipu Allah yaitu berkata iman tapi hati kosong. Sebab Allah tidak bisa ditipu meskipun mengatakan iman tapi hatinya kosong, maka tetap disiksa di neraka. Jadi tidak ada gunanya menipu Allah.
wa alladziina aamanuu : Kita menghindari menipu orang yang beriman. Tidak ada gunanya menipu orang yang beriman sebab orang  yang beriman tidak bisa mengindarkan dari siksa akhirat.
wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum : Kita menghindari menipu diri sendiri yang berakibat mencelakakan diri sendiri, di dunia tidak dibina dan di akhirat masuk neraka selamanya.
wa maa yasy’uruuna : Kita menghindari tidak merasa telah membohongi diri dan mencelakakan diri sendiri. Kita berusaha segera sadar apabila telah membohongi diri. Sebab tidak merasa bersalah itu bahayanya lebih besar dari pada perbuatan salah itu sendiri. Jika setelah berbuat salah dan sadar akan kesalahan itu, maka kesalahan tersebut tidak akan berkelanjutan.

10. Fii quluubihim maradlun fazaadahumullaahu maradlan walahum ‘adzaabun aliimun bimaa kaanuu yakdzibuuna.
Di dalam hati mereka (ada) penyakit, maka Allah menambah (pada) mereka penyakit, dan bagi mereka siksa sangat pedih, sebab apa yang mereka adalah, mereka berdusta.
fii quluubihim maradlun : Kita hindari adanya penyakit dalam hati. Penyakit dalam hati yaitu cinta dunia bukan penyakit liver, hepatitis dan sebagainya. Cinta dunia yaitu gila sanjungan atau takut dilecehkan, gila harta atau takut melarat, gila keluarga atau takut meninggalkannya, gila asmara dan sebagainya. Penyakit hati sangat berbahaya karena menjadi sumber seluruh perbuatan dosa.
fazaada…: 1. Kita hindari ditambahnya penyakit hati dengan cara  meninggalkan sifat munafik. 2. Kita hindari masuk dalam lingkaran munafik, yaitu sudah ada penyakit hati malah ditambah penyakit hatinya oleh Allah. kita segera keluar dari lingkaran tersebut. Sebab jika tidak, maka situasi dan kondisi akan segera mendukungnya.
wa lahum adzaabun : Kita memperbanyak takut pada ancaman Allah terhadap orang munafik yaitu mendapat siksa, sehingga kita hindari sifat munafik tersebut.
aliimun : kita banyak ingat bahwa siksa neraka itu sangat pedih. Baunya neraka saja sangat menyiksa. Andai bau neraka bocor sehingga mencemari dunia, maka buah-buahan dan makanan menjadi busuk dan orang-orang muntah semua.
bimaa kaanuu yakdzibuuna : Kita yakini bahwa siksa yang pedih itu dikarenakan kedustaan kita, buka karena kejamnya Allah. Oleh karena itu, jika kita berbuat kesalahan, maka kita akui kesalahan itu dari kita. Dan jika kita berbuat kebaikan, maka kita yakini kebaikan itu petunjuk dari Allah.
11. Wa idzaa qiila lahum laa tufsiduu fii al ardli qaaluu innamaa nahnu mushlihuuna.
Dan apabila dikatakan bagi mereka, “Jangan kalian merusakkan di dalam bumi”, mereka berkata, “ Sungguh hanya kami orang-orang yang membikin baik”.
wa idzaa qiila lahum : 1. Kita berdakwah dengan mengatakan yang datangnya dari Allah. 2. Kita yakin bahwa yang dimaksud “mereka” dalam ayat ini adalah termasuk kita.
laa tufsuduu fii al ardli : 1. Kita berusaha mengingatkan orang untuk tidak membuat kerusakan dimuka bumi. 2. Kita menghindari membuat kerusakan sekecil apapun di bumi. Contohnya, tidak menutup aurot, dan sebagainya, karena perbuatan itu termasuk  membuat kerusakan.
qaaluu : Kita menghindari menjawab ajakan kebaikan dengan omongan yang sombong yaitu merasa sudah bisa membuat kerusakan.
nahnu muslimuuna : Kita menghindari sifat orang munafik yang mengaku bisa membuat kebaikan, tetapi kita berusaha berbuat kebaikan dan kita yakin kebaikan itu datangnya dari Allah.

12. Alaa innahum humu al mufsiduuna wa laakin laa yasy’uruuna. 
  Ingatlah, sungguh mereka, merreka orang-orang yang merusakkan dan tetapi mereka tidak menyadari 
alaa : Kita banyak mengingat kebernaran dalam al Qur’an, buka dari yang lain.
innahum humu al mufsiduuna : 1. Kita meyakini bahwa orang yang membuat kerusakan adalah orang munafik, yaitu membuat kerusakan tapi mengaku membuat kebaikan. Misalnya, membuat pertunjukan maksiat tapi mengaku menghibur dan menyenangkan orang. Dan yang membuat kerusakan bukanlah orang yang beriman. 2. Kita menghindari menjadi orang yang pada hakekatnya membuat kerusakan.
wa laakin laa yasy’uruuna : Kita menghindari berbuat kerusakan tapi tidak merasa. Tidak merasa berbuat kerusakan lebih berbahaya dari pada membuat kerusakan itu sendiri, karena tidak merasa itu menyebabkan berkelanjutan.
13. Wa idzaa qiila lahum aaminuu kamaa aamana al naasu qaaluu anukminu kamaa aamana as sufahaa’ alaa innahum humu as sufahaa’u wa laakin laa ya’lamuuna.
Dan apabila dikatakan bagi mereka,”Imanlah kalian seperti apa yang manusia (telah) beriman”, mereka berkata, “Apakah kami beriman seperti apa yang orang-orang bodoh (telah) beriman”,Ingatlah sungguh mereka, mereka orang-orang bodoh, dan tapi mereka tidak mengetahui.
wa idzaa qiila lahum : Cara amal sama dengan ayat 11.
aaminuu : 1. Kita mengajak orang untuk beriman. 2. Kita mengikuti orang yang menyeru pada keimanan.
kamaa aamana as-ssufahaa’u : Kita berguru pad orang-orang yang telah beriman  yaitu Rosul atau Ulama.
qaaluu : Kita menghindari ajakan kebaikan hanya dengan omongan,tapi kita berusaha langsung mengerjakan.
a nu’minu…: 1. Kita menghindari mengatakan bahwa orang yang beriman adalah bodoh. 2. Kita sabar dalam berdakwah dengan cara berani menanggung resiko, diolok, difitnah dan sebagainya. 3. Kita junjung tinggi derajat orang-orang yang beriman.
alaa : Kita banyak ingat bahwa yang benar adalah al Qur’an, bukan yang lain.
innahum humu as-sufahaa’u : Kita yakini orang munafik itulah orang yang bodoh bukan orang yang beriman.
wa laakin laa ya’lamuuna : 1. Kita menghindari menjadi termasuk orang-orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya bodoh. Antara lain dengan cara berkumpul dengan ahli ilmu, dan sebagainya. 2. Kita menyadari bahwa diri kita bodoh di hadapan Allah SWT, sehingga kita  terus mohon bimbingan

Sabtu, 17 September 2011

Al-Baqarah [ayat 5-8]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

5. Ulaaika ‘alaa hudan min robbihim wa ulaaika humu al muflihuuna.
Mereka itu atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itu, mereka, orang-orang yang beruntung.
Ulaaika : Kita berusaha memenuhi ciri-ciri muttaqiin sehingga termasuk kelompok “mereka itu”. Ciri-ciri muttaqiin yaitu iman yang gaib, mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rizki, iman pada kitab serta yakin terhadap akhirat.
‘alaa hudan : Kita berusaha hidup selalu di atas petunjuk dengan cara menjadi muttaqiin. Sebab hanya orang yang bertaqwa yang mendapatkan petunjuk. Nilai petunjuk lebih besar dari pada harga langit dan bumi.
Min robbihim : Kita hanya menggunakan petunjuk yang datangnya dari Allah saja, bukan dari yang lain.
…al muflihuuna : 1. Kita meyakini bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka, yaitu berupa bimbingan untuk selalu menghamba kepada-Nya, bukanlah orang yang kaya, ganteng, cantik, tinggi pangkatnya dan sebagainya. 2. Kita jadikan predikat muttaqiin sebagai cita-cita atau tujuan hidup di dunia. Sebab muttaqiin adalah orang yang beruntung di dunia yaitu mendapat petunjuk dan di akhirat mendapat surga.

6. Inna al-ladziina kafaruu sawaaun ‘alaihim a andzartahum am lam tundzirhum laa yukminuuna.
Sungguh orang-orang yang mereka kafir, sama atas mereka, apakah kamu peringatkan mereka ataukah kamu tidak peringatkan mereka, mereka tidak beriman.
…al ladziina kafaruu: 1. Kita menghindari sifat kekafiran yaitu menutup diri dari ingat Allah dan akhirat. (Kafir adalah orang yang menutup, contoh : melihat air tidak ingat Allah yang menciptakan). 2. Kita mohon pada Allah agar dihindarkan dari kekafiran, dengan cara selalu ingat Allah kapanpun, dimananpun dan dalam keadaan apapun.
sawaaun ‘alaihim : Kita menghindari menjadi tipe orang yang tidak ada bedanya, apakah diingatkan atau tidak.
a andzartahum : Kita tetap mau mengingatkan orang  kafir meskipun tidak ada gunanya. Kita mengingatkan mereka untuk membebaskan kewajiban, karena kewajiban kita hanya mengingatkan saja.
am lam tundzir hum : Kita menghindari putus asa untuk mengingatkan, minimal dua kali.
laa yu’minuuna : Kita hindari sifat orang kafir yaitu tidak beriman meski  diingatkan. Sebab bahayanya tidak beriman sangat besar, yaitu berakibat masuk neraka selamanya.

7. Khotama Allohu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim wa’alaa abshoorihim gisyaawatun walahum ‘adzaabun aliimun.
Allah mengunci mati atas hati-hati mereka dan atas pendengaran mereka, dan atas penglihatan mereka  (ada) tutup, dan bagi mereka siksa amat besar.

Khotama Allaahu : Kita takut ancaman Allah berupa ditutupnya hati kita. Dengan cara menghindari menutup dari mengingat Allah. Sebab menutup hati dari ingat Allah, maka Allah akan sekalian mengunci mati hati kita, sebagaimana orang munafik yang dikunci mati hatinya sehingga masuk dalam lingkaran setan. Sebaliknya, lingkaran nikmat bagi orangyang bertaqwa yaitu semakin diberi petunjuk.
‘alaa quluubihim : Kita waspadai gerak hati kita karena bagaikan mesin atas perbuatan jasad kita. Jika hati baik, maka amal jasad kita baik dan jika hati kita jelek,  maka amal jasad kita jelek.
‘alaa sam’ihim : Kita   takut ancaman Allah berupa dikunci mati pendengaran kita dari petunjuk. Kita gunakan pendengarang kita untuk mendapat petunjuk. Misalnya, untuk mendengarkan al Qur’an, pengajian dan sebagainya.
wa ‘alaa abshoorihim : Kita berusaha menghilangkan tutupnya mata hati kita yang menyebabkan tidak bisa melihat Maha Kuasa-Nya Allah yang menghidupkan setelah mati.
….’adzaabun ‘adziimun : 1. Kita takut ancaman Allah untuk orang kafir. 2. Kita banyak ingat siksa neraka amat sangat besar. Sehingga kita berbuat segala sesuatu untuk menghindari neraka.

8.  Wa mina an-anaasi man yaquulu aamannaa bil llahi wabi al yaumi al aakhiri wa maa hum bi mukminiina.
Dan dari manusia, (ada) orang yang berkata, kami beriman dengan Allah dan dengan hari akhir, dan tidaklah mereka orang-orang yang beriman.
wa mina an-naasi : 1. Kita benyak memperhatikan macam-macam manusia untuk diambil pelajaran. 2. Kita mohon Allah agar dijadikan termasuk dari sebagian manusia yang baik, bukan yang jelek.
man yaquulu : Kita berhati-hati dalam berbicara dan menghindari berbicara untuk diingkari atau tidak dilaksanakan sebagaimana sifat orang munafik.
aamannaa billaahi : Kita menghindari beriman kepad Allah dan hari akhir hanya diucapan saja. Sebab beriman pada Allah dan hari akhir itu tempatnya di hati dan dalam perbuatan.
wa maa hum bimukminiina : 1. Kita menghindari mengaku menjadi orang yang telah beriman tetapi kita berusaha beriman. Contoh lain : kita menghindari mengaku menjadi orang yang telah khusu’ dalam sholat tetapi kita belajar khusu’. 2. Kita berusaha tidak terlepas dari golongan orang yang beriman.

Kamis, 15 September 2011

Al Baqarah [ayat 1-4]

AL BAQARAH  (SAPI BETINA)
SURAT KE 2 : 286 ayat 
1.       Alif laam miim
Alif laam miim
Alif laam miim : 1. Kita baca al Qur’an walaupun tidak tahu artinya. Sebagaimana sabda Nabi : “Siapa yang membaca alif laam miim, maka mendapatkan pahala tiga huruf, padahal manusia biasa tidak mengetahui artinya. 2. Kita mengutamakan tawadhu; dari pada pikiran kita. Misalnya : kita melaksanakan perintah wudlu meskipun belum paham. 3. Kita belajar bahasa Arab sebagai kewajiban fardhu ‘ain, karena alif laam miim merupakan sindiran agar kita belajar bahasa Arab. 4. Kita tidak ragu pada kebenaran al Qur’an, sebab sebagian Ulama mengatakan bahwa alif laam miim merupakan sumpah bahwa al Qur’an tiada ragu. 5. Kita meyakini bahwa seluruh al Qur’an adalah firman Allah untuk kita saja, bukan untuk orang lain. Sebagaimana Nabi merasa terpanggil dengan panggilan ”Alif laam miim”. 6. Kita tidak menghamba pada nama tetapi menghamba kepada Dzat Yang Maha Satu. Sebab sebagian ulama’ mengatakan nahwa alif laam miim merupakan nama lain dari Allah. 7. Kita memperhatikan al Qur’an karena sebagian ulama’ menyatakan alif laa miim untuk menarik perhatian.
2.       Dzaalika al kitaabu laa roiba fiihi.
Itu Kitab (Al Qur’an) tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-oang yang bertakwa.
Dzaalika al kitaabu : Kita berpedoman pada kitab untuk menghadapi hidup di sepanjang zaman.
Laa roiba ..: 1. Kita yakin bahwa al Qur’an tiada keraguan didalamnya, benar-beanr firman Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita berpedoman pada suatu yang pasti. 2. Kita menggunakan akal untuk membuktikan kebenaran al Qur’an, antara lain : a. Gelar al-Amiin  (terpercaya) untuk Nabi Muhammad sejak kecil, sehingga secara akal tidak mungkin Nabi Muhammad tiba-tiba membuat kebohongan. b. Nabi adalah seorang Ummi (buta huruf) yang tidak mungkin menjiplak kitab lain. c. Nabi terusir dan diperangi sehingga tidak mungkin dalam rangka mempertahankan kebohongan. Isi al Qur’an untuk keagungan Allah dan akhirat, tidak mungkin buatan manusia meskipun Nabi. Sebab jika dibuat manusia biasa, maka untuk kemuliaan dirinya sendiri bukan untuk kemuliaan Allah. d. Syair al Qur’an 30 juz yang luar biasa, tidak mungkin manusia biasa mau bersusah payah untuk membuatnya. e. Al Qur’an tersebar sejagad raya sebagai bukti bahwa dibuat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hudan lilmuttaqiina : 1. Kita mohon petunjuk kepada Allah denga cara belajar dan berguru untuk memahami dan mengamalkan al Qur’an. 2. Kita berusaha mendapat petunjuk dengan cara berpedoman pada al Qur’an saja, tidak yang lain. 3. Kita belajar menjadi muttaqiin agar mendapat petunjuk dari Allah SWT melalui al Qur’an. 4. Kita berusaha masuk pada lingkaran kebaikan demi mendapat petunjuk dari Allah sehingga menjadi orang takwa, dan karena menjadi orang yang takwa sehingga mendapat petunjuk dari Allah. 5. Kita belajar dan mengajarkan al Qur’an agar menjadi petunjuk bagi umat manusia.
3.       Al-ladziina yu’minuuna bi al ghoibi wayuqiimuuna as sholaata wa mimmaa rozaqnaa hum yunfiquuna.
Orang-orang yang mereka beriman dengan ghoib dan mereka mendirikan sholat dan dari apa yang Kami rizkikan (pada) mereka, mereka menafkahkan.
Al-ladziina yu’minuuna : Yu’minuuna berarti membikin percaya. Jadi, beriman bukan berarti tanpa usaha, tapi berusaha membikin hatinya iman. Belajar membikin hati yakin atau percaya antara lain dengan : sholat, zakat, puasa, haji, belajar al Qur’an, dan yang lain.
Bi al-ghoibi : 1. Kita meperbanyak ingat bahwa hati dan amal selalu dilihat oleh Yang Maha Gaib.
Wa yuqiimuuna…: 1. Kita belajar meningkatkan kualitas sholat dari mujahadah yaitu sholat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, lalu musyahadah yakni menyaksikan Allah pada waktu melihat apapun, ini sholatnya para wali, lalu sholat munajah yaitu berdialog dengan Allah atau selalu mengagungkan-Nya (sholatnya Ulama’). 2. kita mengutamakan ilmu sholat, karena seorang tidak bisa mengerjakan sholat kecuali mengetahui ilmunya. 3. Kita belajar atau berguru dan mengajarkan sholat kepada murid.
Wa mimmaa : Sebagian rizki dari Allah kita nafkahkan. Baik sedikit maupun banyak, baik berupa harta, tenaga, ilmu, dan sebagainya. Nafkahnya badan adalah dzikir “Laa ilaaha illallaah” (tiada Tuhan selain Allah).
Rozaqnaa hum : Kita mendahulukan yakin bahwa semua rizki dari Allah, sebelum kita menafkahkan sebagiannya.
Yunfiquuna : 1. Kita belajar membelanjakan harta Allah untuk agama Allah, bukan harta kita dan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu kita. Kata yunfiquu berarti membelanjakan bukan belanja. Bandingkan antara membeli nasi dengan membelikan ayah nasi, belanja di jalan Allah yaitu untuk kepentingan : iman, ibadah, akhlak. 2. Kita belajar nafkah agar menjadi muttaqiin sehingga mendapat petunjuk dari Allah (berhubungan dengan ayat sebelumnya).
4.       Wa al-ladziina yu'minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqoblika wa bi al aakhiroti hum yuuqinuuna.
Dan orang-orang yang mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan dengan akhirat, mereka, mereka yakin.   
…yu'minuuna : Iman bentuknya adalah yakin yang diupayakan dengan cara memperbanyak ingat. Semakin banyak ingat, maka semakin tinggi derajat yakinnya. Kita berusaha selalu ingat sehingga menjadi yakin, dengan cara belajar atau berguru pada Ulama’.
Bimaa unzila : Kita meyakini al Qur’an diturunkan oleh Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita pakai pedoman hidup, karena yakin yang datangnya dari Allah pasti benarnya.