AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat
18. Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna.
Tuli, bisu, buta, maka mereka, mereka tidak kembali.
Shummun : Kita menghindari tuli yaitu tidak bisa mendengarkan petunjuk Allah.
Bukmun : Kita menghindari bisu yaitu tidak bisa berbicara tentang kebenaran yang datang dari Allah, sehingga berbicara hanya tentang dunia saja.
‘umyun : Kita menghindari buta yaitu tidak bisa melihat cahaya petunjuk dari Allah. Sehingga lihat ciptaan tidak ingat Allah.
Fahum laa yarji’uuna : 1. Kita menghindari munafik yang tidak bisa kembali pada jalan yang benar. 2. Kita berusaha segera kembali pada jalan Allah setelah kita berbuat kesalahan
19. Au kashoyyibin min al samaa’i fiihi zhulumaatun wa ra’dun wa barqun yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim min al showaa’iqi hadzaral mauut wa allaahu muhiithun bi al kaafiriina.
Atau seperti hujan lebat dari langit, di dalamnya (ada) gelap dan petir, dan kilat,mereka jadikan (tutup) jari-jari mereka dalam telinga mereka dari suara petir (karena) takut mati, dan Allah meliputi terhadap orang-orang kafir.
Au kashoyyibin …: Kita menghindari menyia-nyiakan petunjuk yang petunjuk itu bagaikan air. Sebagaimana orang munafik menjadikan air hujan atau petunjuk yang banyak dari langit tidak bermanfaat tetapi malah membahayakan.
Fiihi zhulumaatun : Kita menghindari hidup dalam kegelapan tanpa ada cahaya yaitu petunjuk, dengan cara berguru pada Nabi atau Ulama’.
Wa ro’dun : Kita menghindari menjadikan petunjuk atau nasehat keagamaan hanya seperti suara petir, yaitu sesuatu yang memberatkan atau menakutkan.
Wa barqun : Kita menghindari menjadikan petunjuk atau nasehat keagamaan hanya seperti kilat. Yaitu sesaat saja dan terlalu terang. Sehingga malah menjadi silau.
Yaj’aluuna ashoobi’ahum …: Kita menghindari menutup telinga dari petunjuk yang menganggap petunjuk seperti suara petir.
Mina ash-showaa’iqi : Kita menghindari menganggap petunjuk itu seperti suara petir atau sesuatu yang memberatkan.
Hadzaro al-mauti : Kita menghindari takut mati. Takut mati atau cinta dunia adalah penyebab segala kemunafikan.
Wa allaahu muhiitun …: 1. Kita menyerahkan balasan orang kafir hanya pada Allah saja, karena pengetahuan dan atas kekuasaan Allah meliputi orang kafir. 2. Kita menyadari bahwa orang kafir selalu diawasi oleh Allah dan dibalas di neraka. Sehingga, kita menghindari perbuatan kafir.
20. Yakaadu al barqu yakhthofu abshoorohum kullamaa adloo’a lahum masyau fiihi wa idzaa adzlama ‘alaihim qoomuu wa lau syaa allaahu ladzahaba bisam’ihim wa abshoorihim inna allaah ‘alaa kulli syai’in qodiirun.
Kilat itu hampir menyambar penglihatan mereka. Tiap apa yang menyinari pada mereka, mereka berjalan dalamnya, dan apabila menggelapkan atas mereka, mereka berdiri (diam). Dan andai Allah berkehendak, sungguh Dia hilangkan pendengaran mereka dan penglihatan mereka, sungguh Allah atas tiap sesuatu Maha Kuasa.
Yakaadu al barqu yakhthofu abshoorohum..: 1. Kita menghindari menganggap petunjuk adalah sesuatu yang berat dan tidak istiqoomah. Berat yaitu bagaikan kilat yang terlalu silau sehingga mata tidak dapat melihat, sedangkan tidak istiqoomah yaitu bagaikan kilat yang sekilas saja sehingga kita mohon ampun atas detik demi detik yang tidak ingat pada Allah dan hari akhir. 2. Kita yakin bahwa sebenarnya petunjuk itu sangat jelas, sehingga kita berusaha menjalankan petunjuk itu, yang diumpamakan seperti cahaya yang hampir menyambar mata mereka.
Adloo’a lahum masyau fiihi : Kita menghindari petunjuk itu hanya sekilas seperti kilat. Sehingga, berbuat sesuatu kebaikan hanya di saat tertentu saja. Misalnya ; shalat disaat pada hari raya saja yaitu setahun sekali.
…azhlama… : Kita menghindari hidup dalam kegelapan tidak dapat petunjuk.
Lau syaa’a Allaahu .. : Kita takut Maha Berkehendak-Nya Allah yang menghilangkan pendengaran dan penglihatan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar dan melihat petunjuk Allah.
…qodiirun : Kita banyak ingat Maha Kuasa-Nya Allah termasuk Maha Kuasa menghilangkan pendengaran dan penglihatan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar dan melihat petunjuk dari Allah.
21. Yaa ayyuha an-naasu u’buduu robbakumu al ladzii kholaqokum wa al ladziina min qoblikum la’allakum tattaquuna.
Hai manusia, sembahlah (pada) Tuhan kalian, Dzat yang menciptakan kalian dan orang-orang yang dari sebelum kalian, agar kalian, kalian bertaqwa.
Yaa ayyuha an-naasu : Kita merasa terpanggil oleh al – Qur’an yaitu dengan panggilan “Hai manusia”. Sehingga menyadari bahwa al-Qur’an untuk kita, bukan untuk orang lain.
U’buduu robbakumu : Kita hanya menghamba pada Dzat yang memelihara, mengatur, dan menciptakan kita, tidak pada yang lain yaitu isinya dunia.
Alladzii khalaqokum : Kita banyak ingat bahwa kita diciptakan oleh Allah, oleh karena itu kita hanya menghamba pada-Nya tidak menghamba pada yang lain.
Wa alladziina min qoblikum : 1. Kita sadari bahwa semua manusia yaitu mulai dari zaman Nabi Adam adalah diciptakan oleh Allah hanya untuk menghamba kepada Allah. 2. Kita mencontoh orang-orang terdahulu yang menyembah pada Allah.
La’allakum tattaquuna : 1. Kita orientasikan hidup pada taqwa dengan cara selalu menghamba pada Allah dan berpedoman hidup pada al-Qur’an. 2. Kita yakin bahwa semua perintah Allah jika dijalankan, maka kebaikannya untuk manusia, bukan untuk Allah.