Jumat, 23 September 2011

Al-Baqarah [ayat 18-21]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

18. Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna.
Tuli, bisu, buta, maka mereka, mereka tidak kembali.
Shummun : Kita menghindari tuli yaitu tidak bisa mendengarkan petunjuk Allah.
Bukmun : Kita menghindari bisu yaitu tidak bisa berbicara tentang kebenaran yang datang dari Allah, sehingga berbicara hanya tentang dunia saja.
‘umyun : Kita menghindari buta yaitu tidak bisa melihat cahaya petunjuk dari Allah. Sehingga lihat ciptaan tidak ingat Allah.
Fahum laa yarji’uuna : 1. Kita menghindari munafik yang tidak bisa kembali pada jalan yang benar. 2. Kita berusaha segera kembali pada jalan Allah setelah kita berbuat kesalahan

19. Au kashoyyibin min al samaa’i fiihi zhulumaatun wa ra’dun wa barqun yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim min al showaa’iqi hadzaral mauut wa allaahu muhiithun bi al kaafiriina.
Atau seperti hujan lebat dari langit, di dalamnya (ada) gelap dan petir, dan kilat,mereka jadikan (tutup) jari-jari mereka dalam telinga mereka dari suara petir (karena) takut mati, dan Allah meliputi terhadap orang-orang kafir.

Au kashoyyibin …: Kita menghindari menyia-nyiakan petunjuk yang petunjuk itu bagaikan air. Sebagaimana orang munafik menjadikan air hujan atau petunjuk yang banyak dari langit tidak bermanfaat tetapi malah membahayakan.
Fiihi zhulumaatun : Kita menghindari hidup dalam kegelapan tanpa ada cahaya yaitu petunjuk, dengan cara berguru pada Nabi atau Ulama’.
Wa ro’dun : Kita menghindari menjadikan petunjuk atau nasehat keagamaan hanya seperti suara petir, yaitu sesuatu yang memberatkan atau menakutkan.
Wa barqun : Kita menghindari menjadikan petunjuk atau nasehat keagamaan hanya seperti kilat. Yaitu sesaat saja dan terlalu terang. Sehingga  malah menjadi silau.
Yaj’aluuna ashoobi’ahum …: Kita menghindari menutup telinga dari petunjuk yang menganggap petunjuk seperti suara petir.
Mina ash-showaa’iqi : Kita menghindari menganggap petunjuk itu seperti suara petir atau sesuatu yang memberatkan.
Hadzaro al-mauti : Kita menghindari takut mati. Takut mati atau cinta dunia adalah penyebab segala kemunafikan.
Wa allaahu muhiitun …: 1. Kita menyerahkan balasan orang kafir hanya pada Allah saja, karena pengetahuan dan atas kekuasaan Allah meliputi orang kafir. 2. Kita menyadari bahwa orang kafir selalu diawasi oleh Allah dan dibalas di neraka. Sehingga, kita menghindari perbuatan kafir.
20. Yakaadu al barqu yakhthofu abshoorohum kullamaa adloo’a lahum masyau fiihi wa idzaa adzlama ‘alaihim qoomuu wa lau syaa allaahu ladzahaba bisam’ihim wa abshoorihim inna allaah ‘alaa kulli syai’in qodiirun.
Kilat itu hampir menyambar penglihatan mereka. Tiap apa yang menyinari pada mereka, mereka berjalan dalamnya, dan apabila menggelapkan atas mereka, mereka berdiri (diam). Dan andai Allah berkehendak, sungguh Dia hilangkan pendengaran mereka dan penglihatan mereka, sungguh Allah atas tiap sesuatu Maha Kuasa.
Yakaadu al barqu yakhthofu abshoorohum..: 1. Kita menghindari menganggap petunjuk adalah sesuatu yang  berat dan tidak istiqoomah. Berat yaitu bagaikan kilat yang terlalu silau sehingga mata tidak dapat melihat, sedangkan tidak istiqoomah yaitu bagaikan kilat yang sekilas saja sehingga kita mohon ampun atas detik demi detik yang tidak ingat pada Allah dan hari akhir. 2. Kita yakin bahwa sebenarnya petunjuk itu sangat jelas, sehingga kita berusaha menjalankan petunjuk itu, yang diumpamakan seperti cahaya yang hampir menyambar mata mereka.
Adloo’a lahum masyau  fiihi : Kita menghindari petunjuk itu hanya sekilas seperti kilat. Sehingga, berbuat sesuatu kebaikan hanya di saat tertentu saja. Misalnya ; shalat disaat pada hari raya saja yaitu setahun sekali.
…azhlama… : Kita menghindari hidup dalam kegelapan tidak dapat petunjuk.
Lau syaa’a Allaahu .. : Kita takut  Maha Berkehendak-Nya Allah yang menghilangkan pendengaran dan penglihatan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar dan melihat petunjuk Allah.
…qodiirun : Kita banyak ingat Maha Kuasa-Nya Allah termasuk Maha Kuasa menghilangkan pendengaran dan penglihatan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar dan melihat petunjuk dari Allah.
21. Yaa ayyuha an-naasu u’buduu robbakumu al ladzii kholaqokum wa al ladziina min qoblikum la’allakum tattaquuna.
Hai manusia, sembahlah (pada) Tuhan kalian, Dzat yang menciptakan kalian dan orang-orang yang dari sebelum kalian, agar kalian, kalian bertaqwa.
Yaa ayyuha an-naasu : Kita merasa terpanggil oleh al – Qur’an yaitu dengan panggilan “Hai manusia”. Sehingga  menyadari bahwa al-Qur’an untuk kita, bukan untuk orang lain.
U’buduu robbakumu : Kita hanya menghamba pada Dzat yang memelihara, mengatur, dan menciptakan kita, tidak pada yang lain yaitu isinya dunia.
Alladzii khalaqokum : Kita banyak ingat bahwa kita diciptakan oleh Allah, oleh karena itu kita hanya menghamba pada-Nya tidak menghamba pada yang lain.
Wa alladziina min qoblikum : 1. Kita sadari bahwa semua manusia yaitu mulai dari zaman Nabi Adam adalah diciptakan oleh Allah hanya untuk menghamba kepada Allah. 2. Kita mencontoh orang-orang terdahulu yang menyembah pada Allah.
La’allakum tattaquuna : 1. Kita orientasikan hidup pada taqwa dengan cara selalu menghamba pada Allah dan berpedoman hidup pada al-Qur’an. 2. Kita yakin bahwa semua perintah Allah jika dijalankan, maka kebaikannya untuk manusia, bukan untuk Allah.

Kamis, 22 September 2011

Al-Baqarah [ayat 14-17]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

14. Wa idzaa laquu al-ladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa idza khalau ilaa syayaathiinihim qaaluu innaa ma’akum inamaa nahnu mustahzi’uuna.
Dan apabila mereka jumpa (pada) orang-orang yang mereka beriman, mereka berkata,”kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri pada setan-setan mereka, mereka berkata,”Sungguh kami beserta kalian”. Sungguh hanya kami orang-orang yang memperolok.
…laquu al ladziina aamanuu : Kita menghindari membedakan iman dalam hati, antara pada waktu kita berjumpa orang yang beriman dengan ketika berjumpa  orang yang tidak beriman.
Qaaluu aamannaa : 1. Kita menghindari mengatakan  iman hanya dimulut saja. 2. Kita menghindari menjadi orang yang cari muka dan waspada pada orang tersebut, tapi kita melakukan yang terbaik untuk mereka. Contoh : Jika kelihatannya kelaparan maka kita beri makan, tidak diberi uang.
Khalau : Kita menghindari memisahkan diri dari Allah dan orang-orang yang beriman. Jika kita tetap bersama orang munafik, maka kita berusaha berdakwah pada mereka.
Ilaa syayaathiinihim : 1. Kita menyebut orang yang mengajak pada kekafiran dengan sebutan menghinakan. Misalnya syaitan-syaitan, dan sebagainya. 2. Kita menghindari berkumpul dengan syaitan-syaitan yaitu yang membisikkan kejahatan dalam dada kita terutama yang berbentuk manusia.
Qaaluu innaa ma’akum : 1. Kita menghindari sifat munafik yang tidak punya pendirian  dengan cara mengatakan iman dan berusaha melaksanakan iman itu. 2. Kita menghindari mengatakan,”aku adalah orang yang mudah menyesuaikan dengan keadaan”. Jika berkumpul dengan orang yang sholat maka ikut sholat, jika berkumpul dengan orang yang mabuk-mabukan aku ikut mabuk-mabukan.
Innamaa nahnu mustahzi’uuna : 1. Kita menghindari menjadi orang yang baik di depan tapi dibelakan mengolok-olok. 2. Kita menghindari berbicara keimanan yang tidak serius atau gurauan saja.
15. Allaahu yastahzi’u bihim wayamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuuna.
Allah mengolok mereka dan Dia membiarkan (pada) mereka dalam kesesatan mereka, mereka terombang-ambing.
Allaah yastahzi’u bihim : Kita takut dihinakan oleh Allah dengan cara menghindari menghinakan Allah, Rasul atau Ulama’,  pesantren dan sebagainya.
Wa yamudduhum fii tughyaanihim : Kita takut dan menghindari dibiarkan oleh Allah dalam kesesatan.
Ya’mahuuna : Kita menghindari terombang ambing dalam kesesatan atau masuk dalam lingkaran kesesatan.

16. Ulaaika al ladziina isytarawudldlolaalata bi al huda fa maa robiha at atijaaratuhum wa maa kaanuu muhtadiina.
Mereka itu, orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidak beruntung jual beli mereka  dan tidak mereka adalah orang-orang yang dapat petunjuk.
Isytarau… : 1. Kita menghindari memilih kesesatan dengan menghilangkan petunjuk. Misalnya ; sudah benar bertemu dengan orang yang beriman tetapi malah menemui orang kafir sehingga kembali kafir. Contoh lain ; memilih nonton maksiat dari pada sholat. 2. Kita sering menggunakan akal dengan menyamakan urusan akhirat terhadap urusan dunia. Misalnya ; memilih kesesatan dengan meninggalkan petunjuk. Diumpamakan membeli barang busuk dengan barang yang baik.
Adl dlolaalata bi al huda : Kita menghindari membeli kesesatan dengan petunjuk. Misalnya memilih nonton maksiat dengan meninggalkan sholat atau mencari ilmu.
Famaa robihat : Kita menghindari tidak mendapatkan keuntungan dari perbuatan kita, apalagi kita akan memasuki   alam yang selama-lamanya.
Tijaaratuhum : Kita banyak memikirkan tentang perdagangan urusan akhirat dari pada perdagangan urusan dunia.
Fa maa kaanuu muhtadiina : Kita takut tidak dapat petunjuk dari Allah sebab bahayanya sangat besar. Sehingga kita mohon kepada Allah sagar senantiasa diberi petunjuk.
17. Matsaluhum kamatsali alladziina istauqoda naa roon, falammaa adlooats ma haulahuu dzahaba allaahu binuurihim wataraka hum fii dzulumaatin laa yubshiruuna.
Perumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api, maka tatkala ia menerangi apa yang disekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan Dia meninggalkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak melihat.
Matsaluhum kamatsali : 1. Kita mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan yang dibikin Allah. 2. Kita menjelaskan petunjuk yang datangnya dari Allah dengan membuat perumpamaan-perumpamaan.
Al ladziina istauqoda naaron : 1. Kita berusaha istiqomah dalam kebaikan, tidak memutuskannya. Misalnya : meneruskan berkumpul dengan orang yang beriman dengan mengatakan kami iman, tidak kembali  pada kafir lagi. Hal ini diumpamakan menyalakan api untuk petunjuk. 2. Kita meneruskan semangat pada kebaikan tidak memutuskannya. Hal ini diumpamakan menyalakan api.
Falammaa adlooats,…: Kita berusaha istiqoomah berada dalam lingkaran petunjuk atau semangat beramal sholeh. Hal ini diumpamakan hidup yang disinari oleh api atau cahaya.
Dzahaba Allaahu binuurihim : Kita takut dilenyapkannya cahaya pada kita. Lenyapnya cahaya petunjuk atas kita sangat berbahaya yaitu dimudahkan untuk berbuat kejahatan dan dipersulit berbuat kebaikan.
Wa taroka hum : Kita takut dan berusaha menghindari dibiarkan oleh Allah atau tidak dibina. Sebab hal tersebut bahayanya sangat besar yaitu pasti tidak berbuat kebaikan dan pasti cenderung berbuat kejahatan.
Fii dzulumaatin :  Kita  menghindari kegelapan atau cinta dunia. Kita yakin bahwa dunia itu ringan, kecil, dan hina, bukan mulia.
Laa yubshiruuna : 1. Kita menghindari hidup dalam kegelapan, tidak bisa melihat kekuasaan Allah.  Misalnya, lihat langit tidak ingat Allah yang menciptakan, dan sebagainya. 2. Kita menghindari tidak bisa melihat cahaya petunjuk Allah, dengan cara selalu mohon bimbingan agar selalu ditunjuki oleh Allah.

Minggu, 18 September 2011

Al-Baqarah [ayat 9-13]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

9. Yukhoodi’uuna allaaha wa al-alladziina aamanuu wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum wa maa yasy’uruuna.
Mereka menipu Allh dan orang-orang yang mereka beriman, dan tidak mereka menipu kecuali (pada) diri mereka dan tidak mereka merasa.
yukhoodi’uuna allaaha : Kita menghindari menipu pada Allah. Termasuk menipu Allah yaitu berkata iman tapi hati kosong. Sebab Allah tidak bisa ditipu meskipun mengatakan iman tapi hatinya kosong, maka tetap disiksa di neraka. Jadi tidak ada gunanya menipu Allah.
wa alladziina aamanuu : Kita menghindari menipu orang yang beriman. Tidak ada gunanya menipu orang yang beriman sebab orang  yang beriman tidak bisa mengindarkan dari siksa akhirat.
wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum : Kita menghindari menipu diri sendiri yang berakibat mencelakakan diri sendiri, di dunia tidak dibina dan di akhirat masuk neraka selamanya.
wa maa yasy’uruuna : Kita menghindari tidak merasa telah membohongi diri dan mencelakakan diri sendiri. Kita berusaha segera sadar apabila telah membohongi diri. Sebab tidak merasa bersalah itu bahayanya lebih besar dari pada perbuatan salah itu sendiri. Jika setelah berbuat salah dan sadar akan kesalahan itu, maka kesalahan tersebut tidak akan berkelanjutan.

10. Fii quluubihim maradlun fazaadahumullaahu maradlan walahum ‘adzaabun aliimun bimaa kaanuu yakdzibuuna.
Di dalam hati mereka (ada) penyakit, maka Allah menambah (pada) mereka penyakit, dan bagi mereka siksa sangat pedih, sebab apa yang mereka adalah, mereka berdusta.
fii quluubihim maradlun : Kita hindari adanya penyakit dalam hati. Penyakit dalam hati yaitu cinta dunia bukan penyakit liver, hepatitis dan sebagainya. Cinta dunia yaitu gila sanjungan atau takut dilecehkan, gila harta atau takut melarat, gila keluarga atau takut meninggalkannya, gila asmara dan sebagainya. Penyakit hati sangat berbahaya karena menjadi sumber seluruh perbuatan dosa.
fazaada…: 1. Kita hindari ditambahnya penyakit hati dengan cara  meninggalkan sifat munafik. 2. Kita hindari masuk dalam lingkaran munafik, yaitu sudah ada penyakit hati malah ditambah penyakit hatinya oleh Allah. kita segera keluar dari lingkaran tersebut. Sebab jika tidak, maka situasi dan kondisi akan segera mendukungnya.
wa lahum adzaabun : Kita memperbanyak takut pada ancaman Allah terhadap orang munafik yaitu mendapat siksa, sehingga kita hindari sifat munafik tersebut.
aliimun : kita banyak ingat bahwa siksa neraka itu sangat pedih. Baunya neraka saja sangat menyiksa. Andai bau neraka bocor sehingga mencemari dunia, maka buah-buahan dan makanan menjadi busuk dan orang-orang muntah semua.
bimaa kaanuu yakdzibuuna : Kita yakini bahwa siksa yang pedih itu dikarenakan kedustaan kita, buka karena kejamnya Allah. Oleh karena itu, jika kita berbuat kesalahan, maka kita akui kesalahan itu dari kita. Dan jika kita berbuat kebaikan, maka kita yakini kebaikan itu petunjuk dari Allah.
11. Wa idzaa qiila lahum laa tufsiduu fii al ardli qaaluu innamaa nahnu mushlihuuna.
Dan apabila dikatakan bagi mereka, “Jangan kalian merusakkan di dalam bumi”, mereka berkata, “ Sungguh hanya kami orang-orang yang membikin baik”.
wa idzaa qiila lahum : 1. Kita berdakwah dengan mengatakan yang datangnya dari Allah. 2. Kita yakin bahwa yang dimaksud “mereka” dalam ayat ini adalah termasuk kita.
laa tufsuduu fii al ardli : 1. Kita berusaha mengingatkan orang untuk tidak membuat kerusakan dimuka bumi. 2. Kita menghindari membuat kerusakan sekecil apapun di bumi. Contohnya, tidak menutup aurot, dan sebagainya, karena perbuatan itu termasuk  membuat kerusakan.
qaaluu : Kita menghindari menjawab ajakan kebaikan dengan omongan yang sombong yaitu merasa sudah bisa membuat kerusakan.
nahnu muslimuuna : Kita menghindari sifat orang munafik yang mengaku bisa membuat kebaikan, tetapi kita berusaha berbuat kebaikan dan kita yakin kebaikan itu datangnya dari Allah.

12. Alaa innahum humu al mufsiduuna wa laakin laa yasy’uruuna. 
  Ingatlah, sungguh mereka, merreka orang-orang yang merusakkan dan tetapi mereka tidak menyadari 
alaa : Kita banyak mengingat kebernaran dalam al Qur’an, buka dari yang lain.
innahum humu al mufsiduuna : 1. Kita meyakini bahwa orang yang membuat kerusakan adalah orang munafik, yaitu membuat kerusakan tapi mengaku membuat kebaikan. Misalnya, membuat pertunjukan maksiat tapi mengaku menghibur dan menyenangkan orang. Dan yang membuat kerusakan bukanlah orang yang beriman. 2. Kita menghindari menjadi orang yang pada hakekatnya membuat kerusakan.
wa laakin laa yasy’uruuna : Kita menghindari berbuat kerusakan tapi tidak merasa. Tidak merasa berbuat kerusakan lebih berbahaya dari pada membuat kerusakan itu sendiri, karena tidak merasa itu menyebabkan berkelanjutan.
13. Wa idzaa qiila lahum aaminuu kamaa aamana al naasu qaaluu anukminu kamaa aamana as sufahaa’ alaa innahum humu as sufahaa’u wa laakin laa ya’lamuuna.
Dan apabila dikatakan bagi mereka,”Imanlah kalian seperti apa yang manusia (telah) beriman”, mereka berkata, “Apakah kami beriman seperti apa yang orang-orang bodoh (telah) beriman”,Ingatlah sungguh mereka, mereka orang-orang bodoh, dan tapi mereka tidak mengetahui.
wa idzaa qiila lahum : Cara amal sama dengan ayat 11.
aaminuu : 1. Kita mengajak orang untuk beriman. 2. Kita mengikuti orang yang menyeru pada keimanan.
kamaa aamana as-ssufahaa’u : Kita berguru pad orang-orang yang telah beriman  yaitu Rosul atau Ulama.
qaaluu : Kita menghindari ajakan kebaikan hanya dengan omongan,tapi kita berusaha langsung mengerjakan.
a nu’minu…: 1. Kita menghindari mengatakan bahwa orang yang beriman adalah bodoh. 2. Kita sabar dalam berdakwah dengan cara berani menanggung resiko, diolok, difitnah dan sebagainya. 3. Kita junjung tinggi derajat orang-orang yang beriman.
alaa : Kita banyak ingat bahwa yang benar adalah al Qur’an, bukan yang lain.
innahum humu as-sufahaa’u : Kita yakini orang munafik itulah orang yang bodoh bukan orang yang beriman.
wa laakin laa ya’lamuuna : 1. Kita menghindari menjadi termasuk orang-orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya bodoh. Antara lain dengan cara berkumpul dengan ahli ilmu, dan sebagainya. 2. Kita menyadari bahwa diri kita bodoh di hadapan Allah SWT, sehingga kita  terus mohon bimbingan

Sabtu, 17 September 2011

Al-Baqarah [ayat 5-8]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

5. Ulaaika ‘alaa hudan min robbihim wa ulaaika humu al muflihuuna.
Mereka itu atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itu, mereka, orang-orang yang beruntung.
Ulaaika : Kita berusaha memenuhi ciri-ciri muttaqiin sehingga termasuk kelompok “mereka itu”. Ciri-ciri muttaqiin yaitu iman yang gaib, mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rizki, iman pada kitab serta yakin terhadap akhirat.
‘alaa hudan : Kita berusaha hidup selalu di atas petunjuk dengan cara menjadi muttaqiin. Sebab hanya orang yang bertaqwa yang mendapatkan petunjuk. Nilai petunjuk lebih besar dari pada harga langit dan bumi.
Min robbihim : Kita hanya menggunakan petunjuk yang datangnya dari Allah saja, bukan dari yang lain.
…al muflihuuna : 1. Kita meyakini bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka, yaitu berupa bimbingan untuk selalu menghamba kepada-Nya, bukanlah orang yang kaya, ganteng, cantik, tinggi pangkatnya dan sebagainya. 2. Kita jadikan predikat muttaqiin sebagai cita-cita atau tujuan hidup di dunia. Sebab muttaqiin adalah orang yang beruntung di dunia yaitu mendapat petunjuk dan di akhirat mendapat surga.

6. Inna al-ladziina kafaruu sawaaun ‘alaihim a andzartahum am lam tundzirhum laa yukminuuna.
Sungguh orang-orang yang mereka kafir, sama atas mereka, apakah kamu peringatkan mereka ataukah kamu tidak peringatkan mereka, mereka tidak beriman.
…al ladziina kafaruu: 1. Kita menghindari sifat kekafiran yaitu menutup diri dari ingat Allah dan akhirat. (Kafir adalah orang yang menutup, contoh : melihat air tidak ingat Allah yang menciptakan). 2. Kita mohon pada Allah agar dihindarkan dari kekafiran, dengan cara selalu ingat Allah kapanpun, dimananpun dan dalam keadaan apapun.
sawaaun ‘alaihim : Kita menghindari menjadi tipe orang yang tidak ada bedanya, apakah diingatkan atau tidak.
a andzartahum : Kita tetap mau mengingatkan orang  kafir meskipun tidak ada gunanya. Kita mengingatkan mereka untuk membebaskan kewajiban, karena kewajiban kita hanya mengingatkan saja.
am lam tundzir hum : Kita menghindari putus asa untuk mengingatkan, minimal dua kali.
laa yu’minuuna : Kita hindari sifat orang kafir yaitu tidak beriman meski  diingatkan. Sebab bahayanya tidak beriman sangat besar, yaitu berakibat masuk neraka selamanya.

7. Khotama Allohu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim wa’alaa abshoorihim gisyaawatun walahum ‘adzaabun aliimun.
Allah mengunci mati atas hati-hati mereka dan atas pendengaran mereka, dan atas penglihatan mereka  (ada) tutup, dan bagi mereka siksa amat besar.

Khotama Allaahu : Kita takut ancaman Allah berupa ditutupnya hati kita. Dengan cara menghindari menutup dari mengingat Allah. Sebab menutup hati dari ingat Allah, maka Allah akan sekalian mengunci mati hati kita, sebagaimana orang munafik yang dikunci mati hatinya sehingga masuk dalam lingkaran setan. Sebaliknya, lingkaran nikmat bagi orangyang bertaqwa yaitu semakin diberi petunjuk.
‘alaa quluubihim : Kita waspadai gerak hati kita karena bagaikan mesin atas perbuatan jasad kita. Jika hati baik, maka amal jasad kita baik dan jika hati kita jelek,  maka amal jasad kita jelek.
‘alaa sam’ihim : Kita   takut ancaman Allah berupa dikunci mati pendengaran kita dari petunjuk. Kita gunakan pendengarang kita untuk mendapat petunjuk. Misalnya, untuk mendengarkan al Qur’an, pengajian dan sebagainya.
wa ‘alaa abshoorihim : Kita berusaha menghilangkan tutupnya mata hati kita yang menyebabkan tidak bisa melihat Maha Kuasa-Nya Allah yang menghidupkan setelah mati.
….’adzaabun ‘adziimun : 1. Kita takut ancaman Allah untuk orang kafir. 2. Kita banyak ingat siksa neraka amat sangat besar. Sehingga kita berbuat segala sesuatu untuk menghindari neraka.

8.  Wa mina an-anaasi man yaquulu aamannaa bil llahi wabi al yaumi al aakhiri wa maa hum bi mukminiina.
Dan dari manusia, (ada) orang yang berkata, kami beriman dengan Allah dan dengan hari akhir, dan tidaklah mereka orang-orang yang beriman.
wa mina an-naasi : 1. Kita benyak memperhatikan macam-macam manusia untuk diambil pelajaran. 2. Kita mohon Allah agar dijadikan termasuk dari sebagian manusia yang baik, bukan yang jelek.
man yaquulu : Kita berhati-hati dalam berbicara dan menghindari berbicara untuk diingkari atau tidak dilaksanakan sebagaimana sifat orang munafik.
aamannaa billaahi : Kita menghindari beriman kepad Allah dan hari akhir hanya diucapan saja. Sebab beriman pada Allah dan hari akhir itu tempatnya di hati dan dalam perbuatan.
wa maa hum bimukminiina : 1. Kita menghindari mengaku menjadi orang yang telah beriman tetapi kita berusaha beriman. Contoh lain : kita menghindari mengaku menjadi orang yang telah khusu’ dalam sholat tetapi kita belajar khusu’. 2. Kita berusaha tidak terlepas dari golongan orang yang beriman.

Kamis, 15 September 2011

Al Baqarah [ayat 1-4]

AL BAQARAH  (SAPI BETINA)
SURAT KE 2 : 286 ayat 
1.       Alif laam miim
Alif laam miim
Alif laam miim : 1. Kita baca al Qur’an walaupun tidak tahu artinya. Sebagaimana sabda Nabi : “Siapa yang membaca alif laam miim, maka mendapatkan pahala tiga huruf, padahal manusia biasa tidak mengetahui artinya. 2. Kita mengutamakan tawadhu; dari pada pikiran kita. Misalnya : kita melaksanakan perintah wudlu meskipun belum paham. 3. Kita belajar bahasa Arab sebagai kewajiban fardhu ‘ain, karena alif laam miim merupakan sindiran agar kita belajar bahasa Arab. 4. Kita tidak ragu pada kebenaran al Qur’an, sebab sebagian Ulama mengatakan bahwa alif laam miim merupakan sumpah bahwa al Qur’an tiada ragu. 5. Kita meyakini bahwa seluruh al Qur’an adalah firman Allah untuk kita saja, bukan untuk orang lain. Sebagaimana Nabi merasa terpanggil dengan panggilan ”Alif laam miim”. 6. Kita tidak menghamba pada nama tetapi menghamba kepada Dzat Yang Maha Satu. Sebab sebagian ulama’ mengatakan nahwa alif laam miim merupakan nama lain dari Allah. 7. Kita memperhatikan al Qur’an karena sebagian ulama’ menyatakan alif laa miim untuk menarik perhatian.
2.       Dzaalika al kitaabu laa roiba fiihi.
Itu Kitab (Al Qur’an) tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-oang yang bertakwa.
Dzaalika al kitaabu : Kita berpedoman pada kitab untuk menghadapi hidup di sepanjang zaman.
Laa roiba ..: 1. Kita yakin bahwa al Qur’an tiada keraguan didalamnya, benar-beanr firman Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita berpedoman pada suatu yang pasti. 2. Kita menggunakan akal untuk membuktikan kebenaran al Qur’an, antara lain : a. Gelar al-Amiin  (terpercaya) untuk Nabi Muhammad sejak kecil, sehingga secara akal tidak mungkin Nabi Muhammad tiba-tiba membuat kebohongan. b. Nabi adalah seorang Ummi (buta huruf) yang tidak mungkin menjiplak kitab lain. c. Nabi terusir dan diperangi sehingga tidak mungkin dalam rangka mempertahankan kebohongan. Isi al Qur’an untuk keagungan Allah dan akhirat, tidak mungkin buatan manusia meskipun Nabi. Sebab jika dibuat manusia biasa, maka untuk kemuliaan dirinya sendiri bukan untuk kemuliaan Allah. d. Syair al Qur’an 30 juz yang luar biasa, tidak mungkin manusia biasa mau bersusah payah untuk membuatnya. e. Al Qur’an tersebar sejagad raya sebagai bukti bahwa dibuat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hudan lilmuttaqiina : 1. Kita mohon petunjuk kepada Allah denga cara belajar dan berguru untuk memahami dan mengamalkan al Qur’an. 2. Kita berusaha mendapat petunjuk dengan cara berpedoman pada al Qur’an saja, tidak yang lain. 3. Kita belajar menjadi muttaqiin agar mendapat petunjuk dari Allah SWT melalui al Qur’an. 4. Kita berusaha masuk pada lingkaran kebaikan demi mendapat petunjuk dari Allah sehingga menjadi orang takwa, dan karena menjadi orang yang takwa sehingga mendapat petunjuk dari Allah. 5. Kita belajar dan mengajarkan al Qur’an agar menjadi petunjuk bagi umat manusia.
3.       Al-ladziina yu’minuuna bi al ghoibi wayuqiimuuna as sholaata wa mimmaa rozaqnaa hum yunfiquuna.
Orang-orang yang mereka beriman dengan ghoib dan mereka mendirikan sholat dan dari apa yang Kami rizkikan (pada) mereka, mereka menafkahkan.
Al-ladziina yu’minuuna : Yu’minuuna berarti membikin percaya. Jadi, beriman bukan berarti tanpa usaha, tapi berusaha membikin hatinya iman. Belajar membikin hati yakin atau percaya antara lain dengan : sholat, zakat, puasa, haji, belajar al Qur’an, dan yang lain.
Bi al-ghoibi : 1. Kita meperbanyak ingat bahwa hati dan amal selalu dilihat oleh Yang Maha Gaib.
Wa yuqiimuuna…: 1. Kita belajar meningkatkan kualitas sholat dari mujahadah yaitu sholat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, lalu musyahadah yakni menyaksikan Allah pada waktu melihat apapun, ini sholatnya para wali, lalu sholat munajah yaitu berdialog dengan Allah atau selalu mengagungkan-Nya (sholatnya Ulama’). 2. kita mengutamakan ilmu sholat, karena seorang tidak bisa mengerjakan sholat kecuali mengetahui ilmunya. 3. Kita belajar atau berguru dan mengajarkan sholat kepada murid.
Wa mimmaa : Sebagian rizki dari Allah kita nafkahkan. Baik sedikit maupun banyak, baik berupa harta, tenaga, ilmu, dan sebagainya. Nafkahnya badan adalah dzikir “Laa ilaaha illallaah” (tiada Tuhan selain Allah).
Rozaqnaa hum : Kita mendahulukan yakin bahwa semua rizki dari Allah, sebelum kita menafkahkan sebagiannya.
Yunfiquuna : 1. Kita belajar membelanjakan harta Allah untuk agama Allah, bukan harta kita dan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu kita. Kata yunfiquu berarti membelanjakan bukan belanja. Bandingkan antara membeli nasi dengan membelikan ayah nasi, belanja di jalan Allah yaitu untuk kepentingan : iman, ibadah, akhlak. 2. Kita belajar nafkah agar menjadi muttaqiin sehingga mendapat petunjuk dari Allah (berhubungan dengan ayat sebelumnya).
4.       Wa al-ladziina yu'minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqoblika wa bi al aakhiroti hum yuuqinuuna.
Dan orang-orang yang mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan dengan akhirat, mereka, mereka yakin.   
…yu'minuuna : Iman bentuknya adalah yakin yang diupayakan dengan cara memperbanyak ingat. Semakin banyak ingat, maka semakin tinggi derajat yakinnya. Kita berusaha selalu ingat sehingga menjadi yakin, dengan cara belajar atau berguru pada Ulama’.
Bimaa unzila : Kita meyakini al Qur’an diturunkan oleh Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita pakai pedoman hidup, karena yakin yang datangnya dari Allah pasti benarnya.

Selasa, 13 September 2011

Al Fatihah

AL-FATIHAH (PEMBUKAAN)
SURAT KE 1 : 7 ayat

1. Bismillaahirrochmaanirrochiim,
Dengan nama Allah, Selalu Penyayang, Sangat Penyayang.
Bismillaahi : 1. Kita menyebut nama Allah pada setiap perbuatan. Contoh : kita baca basmalah sebelum makan dan minum, dan hamdalah sesudahnya. Kita masuk wc, maka membaca "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan" dan keluar dari wc kita menyebut "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dan yang telah menyehatkan saya". Kita bersin maka kita katakan "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah". Kita berdoa menyebut nama Allah sebelum tidur,"Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati". Kita baca alhamdulillah setelah bagun. 2. Kita ingat nama Allah dalam keadaan apapun. Misal : Kita lihat air, maka ingat Maha Kuasa-Nya Allah. Kita pandang nasi, maka ingat Maha Sayang-Nya Allah. Kita ingat penciptaan telinga, maka ingat Maha Berkehendak-Nya Allah. Kita ingat penciptaan mata, maka kita ingat Maha teliti-Nya Allah.
Ar-Rohmaani : Menyayangi urusan duniawi. Diberikan kepada semua manusia, baik kafir, munafik dan mukmin. Duniawi yaitu harta, tahta atau sanjungan, kecantikan, asmara sehatnya raga dan keluarga. 1. Kita ingat Allah yang telah memberi nikmat duniawi. 2. Dalam dakwah, kita mendahulukan memberi keuntungan duniawi. Misalnya : sebelum kita mengajak shodaqoh, maka kita shodaqoh terlebih  dahulu. Sebelum kita mengajak sholat, kita silaturrahmi dulu.
Ar-Rohiimi :  Urusan ukhrowi, yaitu didunia, Allah membimbing untuk menghamba, dan diakhirat Allah  memasukkannya kedalam surga. Hal ini khusus yang mukmin saja. 1. Kita mohon dibimbing oleh Allah untuk selalu menghamba. 2. Kita berusaha dan memohon dimudahkan untuk berbuat kebaikan atau keimanandan dipersulit pada kemaksiatan atau kekafiran. 3. Kita mengajak sholat atau lainnya, setelah memberi duniawi.
2. Alhamdulillaahirobbil'aalamiin.
Pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam
Alhamdu : 1. Kita menggunakan hidup untuk memuji Allah, dalam keadaan apapun. 2. Kita memuji Allah untuk nikmat-Nya yang tidak terhitung  banyaknya dan untuk ujian-Nya karena ada ampunan dibaliknya. Lillaahi : 1. Hanya pada Allah kita memuji, bukan pada lainnya. Misal : Dagangan kita laku, maka kita memuji Allah yang telah menggerakkan orang untuk membeli dagangan kita, tidak memuji orang yang membeli. Kita merasakan nikmatnya bakso, maka kita memuji Allah yang menciptakan lidah dan menjadikan lidah yang bisa menikmati bakso, bukan memuji enaknya bakso. 2. Kita selalu menyadari bahwa yang berhak dipuji hanya Allah, oleh sebab itu, jika kita dipuji, maka kita limpahkan pujian itu pada Allah.
Robbi  al-‘alamiina : 1. Kita perbanyak ingat bahwa Allah yang menciptakan, memelihara, mengatur dan memiliki seluruh alam. 2. Di seluruh alam, kita memuji allah dengan cara memuji-Nya di dunia.
3. Ar-Rohmaani
Selalu Penyayang, Sangat Penyayang.
Ar-Rohmaani : Kita memuji sifat Rohman-Nya Allah yaitu bersifat penyayang atau selalu penyayang urusan duniawi kepada semua makhluk.
Ar-Rohiimi : 1. Kita memuji Maha Rohim-Nya Allah yaitu sangat meyayangi urusan ukhrowi. Jika kita dimudahkan berbuat kebaikan dan dipersulit untuk maksiat atau kekafiran, maka kita puji Maha Rohim-Nya Allah tersebut.
4. Maalikiyaumi ad-diini.
Pemilik Hari Pembalasan
Maaliki : 1. Kita banyak mengingat bahwa Allah pemilik hari akhir. 2. Kita banyak tafakkur untuk membuktikan Maha Kuasanya Allah menghidupkan kembali setelah mati. Misalnya : Nabi Adam dijadikan dari tanah mati dan Ibu Hawa dihidupkan dari tulang mati.
Yaumi ad-diini : 1. Untuk hari pembalasan, kita mengarahkan tujuan hidup di dunia. 2. Kita mempersiapkan untuk menghadapi hari pembalasan yang kekal abadi selama hidup didunia. 3. Kita yakin adanya surga dan neraka, surga sebagai balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, dan neraka bagi orang yang ingkar pada Allah dan akhirat. 4. Kita yakini hari akhir adalah hari yang agung. Seharinya sama dengan seribu tahun dunia. Jika kita meniggalkan sholat sehari, maka diancam neraka seribu tahun. Sekali berzina diancam dengan neraka seratus ribu tahun. Menuduh zina tanpa ada empat orang saksi, maka diancam dengan neraka delapan puluh ribu tahun. Pacaran atau bersepi-sepi diancam dengan neraka sepuluh ribu tahun. Mabuk-mabukan, maka diancam neraka empat puluh ribu tahun. Oleh karena itu, kita menghindari sejauh-jauhnya perbuatan tercela tersebut. Jika terlanjur, maka kita mohon ampun.
5. Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iinu.
Pada Engkau kami menyembah, dan pada Engkau kami minta tolong.
Iyyaaka : Hanya pada Allah kita menghamba, tidak pada yang lain. Kita menghamba Allah baik secara lahir maupun batin selama didunia.
Na’budu : Kita menghamba, yaitu berniat dalam perbuatan hanya untuk Allah. Misalnya : Kita kuliah niat menghamba kepada Allah tidak berniat mencari ijasah, gelar, pekerjaan, dan sebagainya. Sebab niat mencari ijasah, gelar, pekerjaan, berarti menghamba kepadanya bukan kepada Allah.
Wa iyyaaka : Hanya pada Allah kita minta tolong dalam segalanya. Contoh : kita minta tolong kepada Allah agar dijadikan orang yang sabar dan sholat.
Nasta’iinu : kita hidup hanya untuk mohon pertolongan kepada Allah agar selalu dibimbing dan dibina serta dimasukkan surga.
6. Ihdina as-shirootho al mustaqiimi.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Ihdinaa : 1. Kita berhubungan, berdialog, berdo’a kepada Allah hanya dalam rangka mohon petunjuk. 2. Kita mencontoh ulama’ yang detik demi detiknya selalu mohon petunjuk kepada Allah.
Ash-shirootho al-mustaqiima : Kita menempuh jalan yang baik dan benar meskipun tegak atau mendaki.
7. Shiroothoal-ladziina an’amta ‘alaihim, ghoiri al-maghdluubi ‘alaihim wa la al-dloolliin.
Jalan orang-orang yang telah Engkau  nikmatkan atas mereka, selain orang-orang yang dimurkai atas mereka dan tidak orang-orang yang sesat.
….an’amta…: 1. Kita berusaha dan mohon pada Allah dijadikan termasuk golongan orang yang diberi nikmat oleh Allah yaitu para nabi, orang shiddiq atau ahli ilmu dan orang-orang yang banyak beramal sholeh. 2. Kita berguru, meniru dan mengidola pada orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. 3. Kita mempelajari kisah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, untuk kita contoh. 4. Kita sadari bahwa kehidupan yang nikmat adalah kehidupan seperti Nabi, orang Shiddiq atau Ulama’, ahli ilmu dan orang yang banyak amal sholeh. Tidak harus pejabat, kaya, cantik atau tampan, dan sebagainya.
Ghoiri al maghdluubi : Kita menghindari termasuk golongan orang-orang yang dimurkai, yaitu buruk lahir yang batinnya pasti buruk. Misalnya : zina, judi, mencuri, dan  sebagainya. Termasuk menghindari menjadi golongan mereka adalah menghindari mengidola mereka.
wa laa ad dloolliiina : 1. Kita menghindari menjadi termasuk golongan orang yang sesat yaitu buruk batin. Buruk batin adalah amal baik tapi salah  niat. Misalnya : Sholat tapi riya’, zakat tapi sombong, kuliah tapi berpacaran, dan sebagainya. 2. Kita memperbaiki niat tanpa menghilangkan amal baik secara lahir.