Minggu, 18 September 2011

Al-Baqarah [ayat 9-13]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

9. Yukhoodi’uuna allaaha wa al-alladziina aamanuu wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum wa maa yasy’uruuna.
Mereka menipu Allh dan orang-orang yang mereka beriman, dan tidak mereka menipu kecuali (pada) diri mereka dan tidak mereka merasa.
yukhoodi’uuna allaaha : Kita menghindari menipu pada Allah. Termasuk menipu Allah yaitu berkata iman tapi hati kosong. Sebab Allah tidak bisa ditipu meskipun mengatakan iman tapi hatinya kosong, maka tetap disiksa di neraka. Jadi tidak ada gunanya menipu Allah.
wa alladziina aamanuu : Kita menghindari menipu orang yang beriman. Tidak ada gunanya menipu orang yang beriman sebab orang  yang beriman tidak bisa mengindarkan dari siksa akhirat.
wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum : Kita menghindari menipu diri sendiri yang berakibat mencelakakan diri sendiri, di dunia tidak dibina dan di akhirat masuk neraka selamanya.
wa maa yasy’uruuna : Kita menghindari tidak merasa telah membohongi diri dan mencelakakan diri sendiri. Kita berusaha segera sadar apabila telah membohongi diri. Sebab tidak merasa bersalah itu bahayanya lebih besar dari pada perbuatan salah itu sendiri. Jika setelah berbuat salah dan sadar akan kesalahan itu, maka kesalahan tersebut tidak akan berkelanjutan.

10. Fii quluubihim maradlun fazaadahumullaahu maradlan walahum ‘adzaabun aliimun bimaa kaanuu yakdzibuuna.
Di dalam hati mereka (ada) penyakit, maka Allah menambah (pada) mereka penyakit, dan bagi mereka siksa sangat pedih, sebab apa yang mereka adalah, mereka berdusta.
fii quluubihim maradlun : Kita hindari adanya penyakit dalam hati. Penyakit dalam hati yaitu cinta dunia bukan penyakit liver, hepatitis dan sebagainya. Cinta dunia yaitu gila sanjungan atau takut dilecehkan, gila harta atau takut melarat, gila keluarga atau takut meninggalkannya, gila asmara dan sebagainya. Penyakit hati sangat berbahaya karena menjadi sumber seluruh perbuatan dosa.
fazaada…: 1. Kita hindari ditambahnya penyakit hati dengan cara  meninggalkan sifat munafik. 2. Kita hindari masuk dalam lingkaran munafik, yaitu sudah ada penyakit hati malah ditambah penyakit hatinya oleh Allah. kita segera keluar dari lingkaran tersebut. Sebab jika tidak, maka situasi dan kondisi akan segera mendukungnya.
wa lahum adzaabun : Kita memperbanyak takut pada ancaman Allah terhadap orang munafik yaitu mendapat siksa, sehingga kita hindari sifat munafik tersebut.
aliimun : kita banyak ingat bahwa siksa neraka itu sangat pedih. Baunya neraka saja sangat menyiksa. Andai bau neraka bocor sehingga mencemari dunia, maka buah-buahan dan makanan menjadi busuk dan orang-orang muntah semua.
bimaa kaanuu yakdzibuuna : Kita yakini bahwa siksa yang pedih itu dikarenakan kedustaan kita, buka karena kejamnya Allah. Oleh karena itu, jika kita berbuat kesalahan, maka kita akui kesalahan itu dari kita. Dan jika kita berbuat kebaikan, maka kita yakini kebaikan itu petunjuk dari Allah.
11. Wa idzaa qiila lahum laa tufsiduu fii al ardli qaaluu innamaa nahnu mushlihuuna.
Dan apabila dikatakan bagi mereka, “Jangan kalian merusakkan di dalam bumi”, mereka berkata, “ Sungguh hanya kami orang-orang yang membikin baik”.
wa idzaa qiila lahum : 1. Kita berdakwah dengan mengatakan yang datangnya dari Allah. 2. Kita yakin bahwa yang dimaksud “mereka” dalam ayat ini adalah termasuk kita.
laa tufsuduu fii al ardli : 1. Kita berusaha mengingatkan orang untuk tidak membuat kerusakan dimuka bumi. 2. Kita menghindari membuat kerusakan sekecil apapun di bumi. Contohnya, tidak menutup aurot, dan sebagainya, karena perbuatan itu termasuk  membuat kerusakan.
qaaluu : Kita menghindari menjawab ajakan kebaikan dengan omongan yang sombong yaitu merasa sudah bisa membuat kerusakan.
nahnu muslimuuna : Kita menghindari sifat orang munafik yang mengaku bisa membuat kebaikan, tetapi kita berusaha berbuat kebaikan dan kita yakin kebaikan itu datangnya dari Allah.

12. Alaa innahum humu al mufsiduuna wa laakin laa yasy’uruuna. 
  Ingatlah, sungguh mereka, merreka orang-orang yang merusakkan dan tetapi mereka tidak menyadari 
alaa : Kita banyak mengingat kebernaran dalam al Qur’an, buka dari yang lain.
innahum humu al mufsiduuna : 1. Kita meyakini bahwa orang yang membuat kerusakan adalah orang munafik, yaitu membuat kerusakan tapi mengaku membuat kebaikan. Misalnya, membuat pertunjukan maksiat tapi mengaku menghibur dan menyenangkan orang. Dan yang membuat kerusakan bukanlah orang yang beriman. 2. Kita menghindari menjadi orang yang pada hakekatnya membuat kerusakan.
wa laakin laa yasy’uruuna : Kita menghindari berbuat kerusakan tapi tidak merasa. Tidak merasa berbuat kerusakan lebih berbahaya dari pada membuat kerusakan itu sendiri, karena tidak merasa itu menyebabkan berkelanjutan.
13. Wa idzaa qiila lahum aaminuu kamaa aamana al naasu qaaluu anukminu kamaa aamana as sufahaa’ alaa innahum humu as sufahaa’u wa laakin laa ya’lamuuna.
Dan apabila dikatakan bagi mereka,”Imanlah kalian seperti apa yang manusia (telah) beriman”, mereka berkata, “Apakah kami beriman seperti apa yang orang-orang bodoh (telah) beriman”,Ingatlah sungguh mereka, mereka orang-orang bodoh, dan tapi mereka tidak mengetahui.
wa idzaa qiila lahum : Cara amal sama dengan ayat 11.
aaminuu : 1. Kita mengajak orang untuk beriman. 2. Kita mengikuti orang yang menyeru pada keimanan.
kamaa aamana as-ssufahaa’u : Kita berguru pad orang-orang yang telah beriman  yaitu Rosul atau Ulama.
qaaluu : Kita menghindari ajakan kebaikan hanya dengan omongan,tapi kita berusaha langsung mengerjakan.
a nu’minu…: 1. Kita menghindari mengatakan bahwa orang yang beriman adalah bodoh. 2. Kita sabar dalam berdakwah dengan cara berani menanggung resiko, diolok, difitnah dan sebagainya. 3. Kita junjung tinggi derajat orang-orang yang beriman.
alaa : Kita banyak ingat bahwa yang benar adalah al Qur’an, bukan yang lain.
innahum humu as-sufahaa’u : Kita yakini orang munafik itulah orang yang bodoh bukan orang yang beriman.
wa laakin laa ya’lamuuna : 1. Kita menghindari menjadi termasuk orang-orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya bodoh. Antara lain dengan cara berkumpul dengan ahli ilmu, dan sebagainya. 2. Kita menyadari bahwa diri kita bodoh di hadapan Allah SWT, sehingga kita  terus mohon bimbingan