Kamis, 22 September 2011

Al-Baqarah [ayat 14-17]

AL-BAQARAH [SAPI BETINA]
SURAT KE 2 : 286 ayat

14. Wa idzaa laquu al-ladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa idza khalau ilaa syayaathiinihim qaaluu innaa ma’akum inamaa nahnu mustahzi’uuna.
Dan apabila mereka jumpa (pada) orang-orang yang mereka beriman, mereka berkata,”kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri pada setan-setan mereka, mereka berkata,”Sungguh kami beserta kalian”. Sungguh hanya kami orang-orang yang memperolok.
…laquu al ladziina aamanuu : Kita menghindari membedakan iman dalam hati, antara pada waktu kita berjumpa orang yang beriman dengan ketika berjumpa  orang yang tidak beriman.
Qaaluu aamannaa : 1. Kita menghindari mengatakan  iman hanya dimulut saja. 2. Kita menghindari menjadi orang yang cari muka dan waspada pada orang tersebut, tapi kita melakukan yang terbaik untuk mereka. Contoh : Jika kelihatannya kelaparan maka kita beri makan, tidak diberi uang.
Khalau : Kita menghindari memisahkan diri dari Allah dan orang-orang yang beriman. Jika kita tetap bersama orang munafik, maka kita berusaha berdakwah pada mereka.
Ilaa syayaathiinihim : 1. Kita menyebut orang yang mengajak pada kekafiran dengan sebutan menghinakan. Misalnya syaitan-syaitan, dan sebagainya. 2. Kita menghindari berkumpul dengan syaitan-syaitan yaitu yang membisikkan kejahatan dalam dada kita terutama yang berbentuk manusia.
Qaaluu innaa ma’akum : 1. Kita menghindari sifat munafik yang tidak punya pendirian  dengan cara mengatakan iman dan berusaha melaksanakan iman itu. 2. Kita menghindari mengatakan,”aku adalah orang yang mudah menyesuaikan dengan keadaan”. Jika berkumpul dengan orang yang sholat maka ikut sholat, jika berkumpul dengan orang yang mabuk-mabukan aku ikut mabuk-mabukan.
Innamaa nahnu mustahzi’uuna : 1. Kita menghindari menjadi orang yang baik di depan tapi dibelakan mengolok-olok. 2. Kita menghindari berbicara keimanan yang tidak serius atau gurauan saja.
15. Allaahu yastahzi’u bihim wayamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuuna.
Allah mengolok mereka dan Dia membiarkan (pada) mereka dalam kesesatan mereka, mereka terombang-ambing.
Allaah yastahzi’u bihim : Kita takut dihinakan oleh Allah dengan cara menghindari menghinakan Allah, Rasul atau Ulama’,  pesantren dan sebagainya.
Wa yamudduhum fii tughyaanihim : Kita takut dan menghindari dibiarkan oleh Allah dalam kesesatan.
Ya’mahuuna : Kita menghindari terombang ambing dalam kesesatan atau masuk dalam lingkaran kesesatan.

16. Ulaaika al ladziina isytarawudldlolaalata bi al huda fa maa robiha at atijaaratuhum wa maa kaanuu muhtadiina.
Mereka itu, orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidak beruntung jual beli mereka  dan tidak mereka adalah orang-orang yang dapat petunjuk.
Isytarau… : 1. Kita menghindari memilih kesesatan dengan menghilangkan petunjuk. Misalnya ; sudah benar bertemu dengan orang yang beriman tetapi malah menemui orang kafir sehingga kembali kafir. Contoh lain ; memilih nonton maksiat dari pada sholat. 2. Kita sering menggunakan akal dengan menyamakan urusan akhirat terhadap urusan dunia. Misalnya ; memilih kesesatan dengan meninggalkan petunjuk. Diumpamakan membeli barang busuk dengan barang yang baik.
Adl dlolaalata bi al huda : Kita menghindari membeli kesesatan dengan petunjuk. Misalnya memilih nonton maksiat dengan meninggalkan sholat atau mencari ilmu.
Famaa robihat : Kita menghindari tidak mendapatkan keuntungan dari perbuatan kita, apalagi kita akan memasuki   alam yang selama-lamanya.
Tijaaratuhum : Kita banyak memikirkan tentang perdagangan urusan akhirat dari pada perdagangan urusan dunia.
Fa maa kaanuu muhtadiina : Kita takut tidak dapat petunjuk dari Allah sebab bahayanya sangat besar. Sehingga kita mohon kepada Allah sagar senantiasa diberi petunjuk.
17. Matsaluhum kamatsali alladziina istauqoda naa roon, falammaa adlooats ma haulahuu dzahaba allaahu binuurihim wataraka hum fii dzulumaatin laa yubshiruuna.
Perumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api, maka tatkala ia menerangi apa yang disekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan Dia meninggalkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak melihat.
Matsaluhum kamatsali : 1. Kita mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan yang dibikin Allah. 2. Kita menjelaskan petunjuk yang datangnya dari Allah dengan membuat perumpamaan-perumpamaan.
Al ladziina istauqoda naaron : 1. Kita berusaha istiqomah dalam kebaikan, tidak memutuskannya. Misalnya : meneruskan berkumpul dengan orang yang beriman dengan mengatakan kami iman, tidak kembali  pada kafir lagi. Hal ini diumpamakan menyalakan api untuk petunjuk. 2. Kita meneruskan semangat pada kebaikan tidak memutuskannya. Hal ini diumpamakan menyalakan api.
Falammaa adlooats,…: Kita berusaha istiqoomah berada dalam lingkaran petunjuk atau semangat beramal sholeh. Hal ini diumpamakan hidup yang disinari oleh api atau cahaya.
Dzahaba Allaahu binuurihim : Kita takut dilenyapkannya cahaya pada kita. Lenyapnya cahaya petunjuk atas kita sangat berbahaya yaitu dimudahkan untuk berbuat kejahatan dan dipersulit berbuat kebaikan.
Wa taroka hum : Kita takut dan berusaha menghindari dibiarkan oleh Allah atau tidak dibina. Sebab hal tersebut bahayanya sangat besar yaitu pasti tidak berbuat kebaikan dan pasti cenderung berbuat kejahatan.
Fii dzulumaatin :  Kita  menghindari kegelapan atau cinta dunia. Kita yakin bahwa dunia itu ringan, kecil, dan hina, bukan mulia.
Laa yubshiruuna : 1. Kita menghindari hidup dalam kegelapan, tidak bisa melihat kekuasaan Allah.  Misalnya, lihat langit tidak ingat Allah yang menciptakan, dan sebagainya. 2. Kita menghindari tidak bisa melihat cahaya petunjuk Allah, dengan cara selalu mohon bimbingan agar selalu ditunjuki oleh Allah.