AL BAQARAH (SAPI BETINA)
SURAT KE 2 : 286 ayat
1. Alif laam miim
Alif laam miim
Alif laam miim : 1. Kita baca al Qur’an walaupun tidak tahu artinya. Sebagaimana sabda Nabi : “Siapa yang membaca alif laam miim, maka mendapatkan pahala tiga huruf, padahal manusia biasa tidak mengetahui artinya. 2. Kita mengutamakan tawadhu; dari pada pikiran kita. Misalnya : kita melaksanakan perintah wudlu meskipun belum paham. 3. Kita belajar bahasa Arab sebagai kewajiban fardhu ‘ain, karena alif laam miim merupakan sindiran agar kita belajar bahasa Arab. 4. Kita tidak ragu pada kebenaran al Qur’an, sebab sebagian Ulama mengatakan bahwa alif laam miim merupakan sumpah bahwa al Qur’an tiada ragu. 5. Kita meyakini bahwa seluruh al Qur’an adalah firman Allah untuk kita saja, bukan untuk orang lain. Sebagaimana Nabi merasa terpanggil dengan panggilan ”Alif laam miim”. 6. Kita tidak menghamba pada nama tetapi menghamba kepada Dzat Yang Maha Satu. Sebab sebagian ulama’ mengatakan nahwa alif laam miim merupakan nama lain dari Allah. 7. Kita memperhatikan al Qur’an karena sebagian ulama’ menyatakan alif laa miim untuk menarik perhatian.
2. Dzaalika al kitaabu laa roiba fiihi.
Itu Kitab (Al Qur’an) tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-oang yang bertakwa.
Dzaalika al kitaabu : Kita berpedoman pada kitab untuk menghadapi hidup di sepanjang zaman.
Laa roiba ..: 1. Kita yakin bahwa al Qur’an tiada keraguan didalamnya, benar-beanr firman Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita berpedoman pada suatu yang pasti. 2. Kita menggunakan akal untuk membuktikan kebenaran al Qur’an, antara lain : a. Gelar al-Amiin (terpercaya) untuk Nabi Muhammad sejak kecil, sehingga secara akal tidak mungkin Nabi Muhammad tiba-tiba membuat kebohongan. b. Nabi adalah seorang Ummi (buta huruf) yang tidak mungkin menjiplak kitab lain. c. Nabi terusir dan diperangi sehingga tidak mungkin dalam rangka mempertahankan kebohongan. Isi al Qur’an untuk keagungan Allah dan akhirat, tidak mungkin buatan manusia meskipun Nabi. Sebab jika dibuat manusia biasa, maka untuk kemuliaan dirinya sendiri bukan untuk kemuliaan Allah. d. Syair al Qur’an 30 juz yang luar biasa, tidak mungkin manusia biasa mau bersusah payah untuk membuatnya. e. Al Qur’an tersebar sejagad raya sebagai bukti bahwa dibuat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hudan lilmuttaqiina : 1. Kita mohon petunjuk kepada Allah denga cara belajar dan berguru untuk memahami dan mengamalkan al Qur’an. 2. Kita berusaha mendapat petunjuk dengan cara berpedoman pada al Qur’an saja, tidak yang lain. 3. Kita belajar menjadi muttaqiin agar mendapat petunjuk dari Allah SWT melalui al Qur’an. 4. Kita berusaha masuk pada lingkaran kebaikan demi mendapat petunjuk dari Allah sehingga menjadi orang takwa, dan karena menjadi orang yang takwa sehingga mendapat petunjuk dari Allah. 5. Kita belajar dan mengajarkan al Qur’an agar menjadi petunjuk bagi umat manusia.
3. Al-ladziina yu’minuuna bi al ghoibi wayuqiimuuna as sholaata wa mimmaa rozaqnaa hum yunfiquuna.
Orang-orang yang mereka beriman dengan ghoib dan mereka mendirikan sholat dan dari apa yang Kami rizkikan (pada) mereka, mereka menafkahkan.
Al-ladziina yu’minuuna : Yu’minuuna berarti membikin percaya. Jadi, beriman bukan berarti tanpa usaha, tapi berusaha membikin hatinya iman. Belajar membikin hati yakin atau percaya antara lain dengan : sholat, zakat, puasa, haji, belajar al Qur’an, dan yang lain.
Bi al-ghoibi : 1. Kita meperbanyak ingat bahwa hati dan amal selalu dilihat oleh Yang Maha Gaib.
Wa yuqiimuuna…: 1. Kita belajar meningkatkan kualitas sholat dari mujahadah yaitu sholat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, lalu musyahadah yakni menyaksikan Allah pada waktu melihat apapun, ini sholatnya para wali, lalu sholat munajah yaitu berdialog dengan Allah atau selalu mengagungkan-Nya (sholatnya Ulama’). 2. kita mengutamakan ilmu sholat, karena seorang tidak bisa mengerjakan sholat kecuali mengetahui ilmunya. 3. Kita belajar atau berguru dan mengajarkan sholat kepada murid.
Wa mimmaa : Sebagian rizki dari Allah kita nafkahkan. Baik sedikit maupun banyak, baik berupa harta, tenaga, ilmu, dan sebagainya. Nafkahnya badan adalah dzikir “Laa ilaaha illallaah” (tiada Tuhan selain Allah).
Rozaqnaa hum : Kita mendahulukan yakin bahwa semua rizki dari Allah, sebelum kita menafkahkan sebagiannya.
Yunfiquuna : 1. Kita belajar membelanjakan harta Allah untuk agama Allah, bukan harta kita dan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu kita. Kata yunfiquu berarti membelanjakan bukan belanja. Bandingkan antara membeli nasi dengan membelikan ayah nasi, belanja di jalan Allah yaitu untuk kepentingan : iman, ibadah, akhlak. 2. Kita belajar nafkah agar menjadi muttaqiin sehingga mendapat petunjuk dari Allah (berhubungan dengan ayat sebelumnya).
4. Wa al-ladziina yu'minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqoblika wa bi al aakhiroti hum yuuqinuuna.
Dan orang-orang yang mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan dengan akhirat, mereka, mereka yakin.
…yu'minuuna : Iman bentuknya adalah yakin yang diupayakan dengan cara memperbanyak ingat. Semakin banyak ingat, maka semakin tinggi derajat yakinnya. Kita berusaha selalu ingat sehingga menjadi yakin, dengan cara belajar atau berguru pada Ulama’.
Bimaa unzila : Kita meyakini al Qur’an diturunkan oleh Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita pakai pedoman hidup, karena yakin yang datangnya dari Allah pasti benarnya.